INI sungguh-sungguh sebuah kutipan yang lucu, bukan?
Kesimpulan adalah tempat istirahat saat lelah berdebat.
Maaf, saya sudah lupa. Kamu ingat berapa jumlah kesimpulan yang
pernah kita buat lalu ulang menyusunnya agar terlihat lebih indah dari
sebelumnya? Kalimat-kalimat lama itu di mana kita sembunyikan—setelah
yang baru kita temukan? Di dalam puisi seorang penyair yang kekurangan
metafora. Barangkali.
Kita bercinta seperti sepasang sado-masocist. Tetangga
mendengar tangis-teriakan kita lalu mengumbar rasa kasihan dalam
gosip-gosip. Sementara kita puas dan mandi seperti sepasang anak kecil
dari kota yang baru menemukan sungai yang tidak terbuat dari bau
selokan. Namun pada pagi hari, kita berdiskusi sambil sarapan tentang
bagaimana cara paling tepat menyembunyikan sisa-sisa pertempuran yang
memerah di kulit kita. Ah, kita selalu begitu, malu memperlihatkan
hangat cinta!
Dan setiap pagi, di meja makan, kita membangun tempat istirahat baru.
KUTIPAN yang satu ini tidak kalah lucunya, Sayang. Dengar!
Ayam lebih mula—pernahkah kau bayangkan betapa lucu
Tuhan duduk mengerami sebutir telur?
Siapa lebih dulu mencintai: kamu atau saya? Kita sama menunjuk dada
sendiri namun tak bisa menjelaskan mengapa bisa begitu. Pokoknya saya
lebih dulu! Pokoknya kamu kemudian! Rupanya memang tren berdebat
anggota dewan juga sampai di kamar tidur kita. Saya benar. Kamu tidak
benar. Bedanya saya mencintai kamu, kamu mencitai saya. Tetapi anggota
dewan itu hanya mencintai diri mereka sendiri.
Maka begitulah: kita tidak bisa bercerai meski kita terus saja
berkelahi. :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar