Selasa, 10 April 2012

Goresan Kecil Untukmu, Bunda

Ibunda...

Di tirai pagi kubersandar pada dinding kesedihan
Di senandung alam kuberbaring pada rajutan kerinduan


Telah jauh jarak antara kutub-kutub tubuh kita
Membentang kerinduan didalam anak-anak sungai diujung mata kita


Coba kukumpulkan keindahan dunia untuk ganti hadirmu
Coba kupilah yang terbaik untuk isi kerinduanku


Dunia takkan mampu menggantikanmu
Pilahan yang terbaik takkan lagi coba kuisi dalam rinduku

Dunia...ah apalah arti dunia ketika surgapun ditelapak kakimu
Menopang segala yang ada ditubuh, hati dan luangan kasih sayangmu
Hingga begitu indah setiap detik dalam rahimmu
Hingga begitu indah setiap detik dalam gendonganmu
Hingga begitu indah setiap detik dalam pangkuanmu
Hingga derita kau rasa indah demi anandamu

Lalu...kenapa hanya rindu yang ananda punya untuk ibunda

Tidak bunda...
Rindu ini hadir dalam Doa anandamu
Agar surga selalu hadir untukmu
Bukan hanya ditelapak kakimu

Sabtu, 07 April 2012

SEKUEL'S

kelak ketika usia tua datang, ingatan kembali dihidupkan. lalu tiba-tiba ada yang tumbuh dari waktu, deretan kata yang pernah engkau semaikan ke telingaku waktu itu, beberapa waktu lalu. janji yang pernah mati-terkubur rongsokan ingatanku dan ingatanmu yang berkarat itu.

kelak ketika usia tua datang, janji kembali menagih dan menguji. kata-kata lamamu akan tumbuh jadi sebatang pohon yang lagi dan lagi gugur daun-daun dan bunganya, seperti raut dan rambut kita di hadapan maut.

untuk itu aku menyiapkan puisi ini sebagai lahan bagi pohon yang kelak biji-bijinya berdahan, beranting, dan beranak-pinak menjadi pohon-pohon lain itu. agar nanti arwahku tenang sebagai seekor burung hutan.

Kita Saling Mencintai seperti Dua Kutipan Lucu

INI sungguh-sungguh sebuah kutipan yang lucu, bukan?

Kesimpulan adalah tempat istirahat saat lelah berdebat.

Maaf, saya sudah lupa. Kamu ingat berapa jumlah kesimpulan yang pernah kita buat lalu ulang menyusunnya agar terlihat lebih indah dari sebelumnya? Kalimat-kalimat lama itu di mana kita sembunyikan—setelah yang baru kita temukan? Di dalam puisi seorang penyair yang kekurangan metafora. Barangkali.

Kita bercinta seperti sepasang sado-masocist. Tetangga mendengar tangis-teriakan kita lalu mengumbar rasa kasihan dalam gosip-gosip. Sementara kita puas dan mandi seperti sepasang anak kecil dari kota yang baru menemukan sungai yang tidak terbuat dari bau selokan. Namun pada pagi hari,  kita berdiskusi sambil sarapan tentang bagaimana cara paling tepat menyembunyikan sisa-sisa pertempuran yang memerah di kulit kita. Ah, kita selalu begitu, malu memperlihatkan hangat cinta!

Dan setiap pagi, di meja makan, kita membangun tempat istirahat baru.

KUTIPAN yang satu ini tidak kalah lucunya, Sayang. Dengar!

Ayam lebih mula—pernahkah kau bayangkan betapa lucu Tuhan duduk mengerami sebutir telur?

Siapa lebih dulu mencintai: kamu atau saya? Kita sama menunjuk dada sendiri namun tak bisa menjelaskan mengapa bisa begitu. Pokoknya saya  lebih dulu! Pokoknya kamu kemudian! Rupanya memang tren berdebat anggota dewan juga sampai di kamar tidur kita. Saya benar. Kamu tidak benar. Bedanya saya mencintai kamu, kamu mencitai saya. Tetapi anggota dewan itu hanya mencintai diri mereka sendiri.

Maka begitulah: kita tidak bisa bercerai meski kita terus saja berkelahi. :)

Akibat ngerasa terlalu sehat


Gw baru sakit, but i feel a lot better now.
Thank’s for those enormous attention Guys.. hahahaha banyak juga yang khawatir kalo gue sakit-sakit gini.
Kayak nyokap gue kemaren nelpon..
Mama: Bg, kamu apa kabar? Luka nya udah sembuh? Susah banget dihubungi..
Gue: lagi demam gara-gara gusinya meradang, Ma.
Mama: HAH? KAMU SAKIT APA LAGI? KOK GA BILANG, ADUH MAAP MAMA LAGI-LAGI GA BISA JENGUK KAMU.
Gue: ga apa kok ma, bukan masalah besar.
Mama: trus trus kamu udah minum antibiotiknya belum? Udah makn obat apa aja? Aduh, sini mama telpon manager apartemen kamu yah biar kamu diurusin.mau dirawat di rumah sakit?
Gue: ga apa-apa kok ma, cm geraham numbuh doank -__-
U get the idea
Dan kebiasaan gue nomer satu, ga pernah nganggep persoalan apapun besar dampe akhirnya jadi persoalan besar.
Pas jamannya gue SD dulu kelas 3, gue di circumcision atau bahasa gaulnya potong titit alias sunat. Gue itu bagaikan raja dirumah, kadang kalo dirumah tinggal angkat telpon haha
Mama: bang,kamu gimana? Tititnya udah baikan?
Gue: iya, udah.
Mama: mama lagi di jalan, kamu mau jagung seger?
Gue: boleh ma, yang agak muda dikit... oh iya, ama mainan betmen yang baru ya ma ya...
Voila...... langsung ada.
Jadi pengen disunat lagi. Abis abis deh. Ga apa kok, masih ada yang kanan. Hahaha
Tapi sekarang pas gue jauh gini dari orangtua dan keramaian gue paling parno-parno sendiri aja. Gue Cuma takut aja kena Typhoid alias tipes, abis gue pengalaman banget kena gejala tipes dan itu ga banget deh L . Kalo sakit gini gue pasti suka nebak-nebak kira-kira gue sakit apaan.
Dan setelah gue istirahat seharian drumah, dan akhirnya berangkat lagi kuliah lagi kemaren, gue nanya ke Hundy Dickson di kelasnya dia, berbekal penuh dengan kekhawatiran.
Gue: Hundy..
Dia: yes?
Gue: do we be any chance could have thypoid fever in Germany?
Dia: HUH? Thypoid? Dengan wajah merenggut-renggut kayak mau ngeden keluar babi
Gue: Yeah!! Thypoid.
Dia: you can get high fever, you might have cold or flu but there’s wont be any chance you will get thypoid. Not in Germany. NO WAY HAHAHAHAHAHAHA
Sumpah dia ketawa setan dengan keras banget.
Gue masih lega-lega aja pas dia bilang gitu
Abis itu ada dosen lain masukke kelas, dia langsung bilang ke dosen itu.
Dia: carefull, don’t go that away, there’s that THYPOID GUY OVER THERE. HAHAHAHAHAHAHA
Dosen lain: HAHAHAHAHAHAHA
Anjiing
Well, so much for being cautious
Tapi anehnya kata-kata si Hundy Dickson yang menyatakan bahwa di Germany kayaknya ga mungkin dapet tipes gue jadi berseri-seri, panas gue siangnya turun dan gue udah bisa senyum-senyum dan gila-gila lagi layaknya ubi mekar yang bersinar.
Don’t you know, terkadang pikiran kita itu bisa bgerubah total akan apa yang kita rasain? Gue lupain satu hal penting, bahwa apa yang terjadi ama diri kita, ga selalu harus itu yang kita rasain di hati. Tsaaah.....
Dan setelah jam makan siang gue ngerjain tugas Termo bareng Jaka di balkon, di samping ruangan kelas. Lagi di balkon, karena energi gue berlebih dan masih penuh, jadinya gue joget-joget di teras bagaikan putri malam yang menjelma jadi remaja Afrika dari suku Hotentot yang baru mengalami sunatan untuk yang kelimapuluh kalinya. Gue menggeliat dengan penuh rasa menggoda sambil teriak-teriak nyanyi di balkon.
Jaka: bhuahahahhaaha. Lo gila banget sih FERG.
Gue: ALAMM RAYAA... YA YA YA.... LA LA LA *nyanyi-nyanyi dibalkon*
Setelah nyanyi-nyanyi dengan suara gue yang konon kabarnya dapat membunuh lebih cepat dari racun serangga, gue pun duduk diem dengan manis manja di deket balkon, sebelah kelas.
Tiba-tiba terdengar suara tawa orang ramai di sebelah gue
Ternyata disebelah tempat duduk gue ada kelas!!!
DAN DI KELAS ITU LAGI ADA PELAJARAN.....
Yang berarti mereka semua mendengar gue bernyanyi dengan lantangnya
Mereka melihat jogetan gue yang merupakan kombinasi dari gaya epilepsi anak cacingan dengan joget cha-dut model monyet sirkus maen kuda lumping.
Gue ngeliat kesamping, ke arah pintu kelas, berharap mereka ga denger dan menyaksikan salah satu tanda-tanda datangnya kiamat yang baru gue praktikkan tadi. Kemudian pintu kelas dibuka dan salah satu cewe bule dengan tawa ditahan ngomong ke gue dari balik pintu
“Sorry... Guys. Hmmmmffh... but... hmmmmffff.... can you keep it down please? Hehe, hmmm cheers”
Dan gue Cuma senyum lebar