Rabu, 26 Mei 2010

Pria Kecilmu, Paa

Cinta untukmu bukanlah seperti cinta pada orang lain. Cinta untukmu itu berarti mencintai dalam diam dan bukan dengan kata. Cinta untukmu itu berarti berbentuk tindakan. Cinta untukmu itu akan selalu berbentuk cinta dari anak kecil. Sederhana. Sesederhana Kau mengekspresikan segalanya. Sesederhana aku membuktikannya.

Cerita tentang kita, entah harus berapa banyak yang harus kutuliskan. 20 tahun lebih bukanlah waktu yang sedikit untuk dikisahkan. 20 tahun. Ternyata sudah selama ini kau memperjuangkan segalanya untukku. 20 tahun yang cukup sulit ya? Kau ternyata adalah orang hebat yang mampu bertahan selama 20 tahun ini, dan kurasa untuk 20 tahun kedepan kemudian 20 tahun kedepan lagi. Sampai aku berada pada titik tidak mampu mengisahkan lagi segala hal tentang kita, Kau tetaplah sosok hebat.

Jadi harus ku awali dari mana kisah kita? Bagaimana kalau tentang Kau yang selalu terlambat menyadari bahwa aku bukan lagi ada dalam kategori anak kecil? Ya. Saat semua orang mengatakan bahwa aku sudah besar dan pantas untuk dilepas di kota yang lain, Kau justru mengatakan dengan lantang bahwa aku masih terlalu kecil. Atau ketika semua orang menyatakan dengan jelas bahwa sebentar lagi mungkin akan ada upacara pernikahan yang harus kau adakan, Kau justru sibuk mempersiapkan lanjutan sekolah ku. Atau ketika semua orang menanyakan pasangan padaku, Kau sibuk menyuruhku kuliah. Atau ketika banyak orang merencanakan untuk bekerja pada usia 22 tahun, sedang Kau justru mengatakan aku masih terlalu kecil untuk bekerja. Dan usia 20 tahun ternyata tetap saja Kau pandang sebagai angka yang masih pantas disebut kecil. Entah pedoman mana yang Kau anut. Sampai sekarang akupun masih kurang mengerti.

20 tahun yang lalu, aku masih dalam gendongan mu. Dan saat ini seharusnya aku tidak lagi berhak mendapatkan gendongan, bukan? Kau tidak lagi muda. Aku bukan lagi bayi. Kau sudah mulai menua. Sedang aku dalam tahap pendewasaan. Pada nyatanya, aku tetap saja masih dalam gendongan mu. Meski dalam kuantitas yang berbeda. Jadi, apa itu berarti aku masih saja dipandang kecil? Saat ini, aku memandang foto mu yang mencium ku saat aku masih bayi. Kupikir, ciuman itu takkan pernah ada lagi. Kupikir ciuman itu hanya dianugrahkan untuk bayi-bayi mungil saja. Nyatanya, masih tetap ada ciuman itu untuk aku yang berusia 20 tahun. Lagi-lagi, apa ini karena Kau yang selalu memandang ku masih dalam sosok anak kecil? 

Paa, kisah ini ada bukan karena aku benci. Kisah ini ada bukan karena aku tak suka. Kisah ini justru kisah paling indah yang kurasa pantas untuk kupamerkan. Untuk ku ceritakan. Entah apa maksud dari segala tindakan mu, tapi biarlah aku menganggap ini adalah cara mu menyayangi ku. Biarlah aku menganggap ini adalah caramu menunda kedewasaan ku, agar Kau tak terlalu cepat melepaskan tanggung jawab mu atas aku. Biarlah aku menganggap ini adalah caramu untuk tetap memiliki pria kecil mu dulu. Biarlah ku pamerkan kisah ini kepada anak-anak ku kelak, agar dia tahu betapa Kau menyayangi anakmu dan begitu bangganya pria kecil mu dulu memiliki seorang aah seperti mu.

Maaf untuk segala hal yang kubantah atau harapan mu yang ku pupuskan. Maaf untuk tuntutan yang terlalu besar saat berhadapan dengan mu. Maaf untuk sayang yang tak pernah terucap. Maaf untuk kesulitan yang kuhadirkan. Atau kehadiran yang membuatmu bingung. Maaf untuk sikap kritis yang terlalu tajam. Maaf untuk perjalanan yang mungkin kurang Kau kehendaki.

Terimakasih untuk bertahan sampai pada titik ini. Terimakasih untuk keberadaan mu. Terimakasih untuk segala perjuangan. Terimakasih untuk usahamu. Terimakasih untuk kisah yang dulu sering kau ceritakan. Terimakasih untuk pengorbanan. Terimakasih untuk prioritas yang Kau ciptakan untuk keluarga. Terimakasih untuk pelajaran hidup yang sering Kau gambarkan. Terimakasih untuk hal-hal terbaik yang selalu Kau coba untuk dihadirkan. Terimakasih untuk kebanggaan yang tetap ada meski aku tak pernah sesuai dengan ekspektasi mu.

Oh,Tuhan.
Rangkul lah ia dalam kehangatan di SurgaMu,
Tuhan, sampaikan kepadanya betapa aku merindukannya, betapa aku kehilangannya.

Aku masih akan tetap menjadi pria kecil mu, Paa. 

Minggu, 23 Mei 2010

36#O (Oooh, My Ghost…Oooh, My Goodness…!)

Ukuran tidak penting ! Itu pendapat sebagian orang. Ukuran sangat penting ! Itu pendapat sebagian orang yang setuju. Stop! Ini soal ukuran apa? Ukuran baju, sepatu, atau alat vital? Tiga-tiganya bukan. Yang pasti, ini soal ukuran buah dada perempuan atau biasa juga disebut payudara. Ada juga yang menyebutnya dengan beberapa istilah lain yang konon kabarnya lebih sopan untuk diucapkan : bukit kembar, gunung kembar, tetikadi dan lain-lain. Saya lebih suka menggunakan istilah payudara. Kesannya lebih blak-blakan dan apa adanya. Daripada pesan tidak sampai gara-gara salah idiom, mendingan bicara terus terang biar langsung ke pokok sasaran.

Agak lucu memang kalau sudah debat soal ukuran payudara perempuan. Gue bukan perempuan, tapi gue sangat dekat dengan kehidupan perempuan. Ditambah lagi, gue punya segerombolan teman laki-laki yang juga dekat dengan perempuan dan sangat suka membicarakan lika-liku dunia keperempuanan. Sebagian besar teman laki-laki gue itu lebih sering menghabiskan waktu senggangnya dengan ber-afternoon tea di kafe mal sambil ber-window shopping (cuci mata) atau ber-dugem ria alias clubbing pada malam-malam gaul (Rabu, Jum’at & Sabtu) ke sejumlah kafe-lounge-diskotik trendsetter.

Salah satu topik pembicaraan yang tak pernah basi, ya itu tadi, soal payudara. Bagi perempuan, bagian tubuh yang satu ini termasuk dalam katagori sex-appeal. Paling terbuka sehingga gampang dilihat meskipun tertutup baju dan sering dijadikan bahan terkaan, terutama menyangkut ukuran. ‘Coz termasuk katagori sex-appeal, tidak heran kalau banyak laki-laki suka membicarakannya. Apa yang terbayang di benak Anda ketika menyebut nama Pamela Anderson atau Dolly Parton? Huahahaha, kalo gue mah pertama kali teringat dengan ukuran payudara mereka yang super besar dan mempunyai ukuran di atas rata-rata itu. (insap gio!! Insap)

“Eit, tunggu dulu. Tidak semua laki-laki suka dengan perempuan berdada besar?” sergah Ervand, 24 tahun, ketika gue bertemu dia di Soerabi Enhaii, Bandung. Ada dua teman gue lagi : Bobby dan Joe (Alm), yang tak urung langsung tergoda untuk ikut berdiskusi.
Joe : “Kalo gue demen yang gede,”
Bobby : “Kenapa?”
Joe : “Secara psikologis, gede itu jadi jaminan kepuasan.”
Ervand : “Kok bisa?”
Joe : “Kalo gede kan gampang dilihat, diraba dan diapa-apain,” (jawab Joe, simple)
Guw : “Gue nggak. Gue demen yang sedang-sedang saja,”
Ervand : “Kenapa?”
Gue : “Dimana-mana yang sedang-sedang itu paling moderat, paling balance. Besar kecil, buat gue nggak terlalu penting. Yang penting, tidak lembek !” (gue ikut memanaskan suasana diskusi informal, sore itu)
Bobby : “Dari mana lo tahu lembek atau nggak?”
Joe : “Cek dulu baru coba,” (sambar Joe)
Gue :“Emangnya jajajan pasar bisa dicek dulu. Gile lo ya !”

Pembicaraan plus jawaban yang muncul akan sangat beragam. Itu pasti. Jadi kalau ada pertanyaan : siapa yang tidak suka dengan buah dada perempuan berukuran besar? Jawabannya sangat personal. Tidak gampang menebak selera laki-laki. Masing-masing punya selera yang berbeda, apalagi untuk urusan seksual. Melihat mungking semua laki-laki suka tapi kalau sudah bicara selera, jawabannya nanti dulu. Suka melihat bukan berarti itu mengindikasikan selera. Suka membicarakan, belum tentu juga mewakili selera. Untuk urusan yang satu ini, laki-laki bisa dibilang misterius, tidak kalah misteriusnya dengan dunia perempuan.
Tapi yang patut digarisbawahi adalah sebagian laki-laki suka membahas dunia perempuan, apalagi kalau itu menyangkut wilayah sex-appeal. Salah satunya, ya payudara. Itu sudah jadi rahasia umum. Di kafe, di mal dan di sejumlah tempat tongkrongan, diskusi seputar sex-appeal perempuan, selalu menarik perhatian. Apalagi kalau sudah membahas ukuran payudara perempuan, tak ubahnya masuk dalam diskusi yang mengundang adrenalin tersendiri. Gue, Ervand, Bobby dan Joe, menghabiskan waktu tak kurang dari dua jam untuk membahas soal payudara perempuan. Gile! Itupun pembicaraan juga belum usai.

“Punya dia seperti ceplok telur.” Itu istilah mereka yang berdada kecil atau berdada rata.
“Punya dia pasti bertipe pepaya.” Itu satu ungkapan untuk mereka yang punya payudara besar dan panjang.
“Kalau punyanya si dia seperti buah melon.” Yang satu ini, istilah untuk mereka yang berpayudara besar dan bulat.

Itu baru soal bentuk. Belum lagi kalau masuk ke soal ukuran. Jangan dikira kaum laki-laki tidak tahu dan enggan membicarakannya. Malah kebalikannya!

“Branya pasti nggak lebih dari 32 A,” Joe mencoba menakar ukuran bra seorang perempuan yang berjalan di escalator.
“Yang itu sih tebakan gue lebih dari 34 B,” Bobby tak mau ketinggalan.
“Kalo yang di ujung itu, minimal 36 C deh,” Ervand pun ikut-ikutan.
“Sok tau. Kalo dia pake tambelan, gimana?” Sambar gue
“Periksa saja sendiri kalo nggak percaya,” sungut Bobby.
“Nggak usah jauh-jauh. Pamela Anderson itu ukuran bra-nya berapa?” gue melemparkan pertanyaan yang membuat Ervand, Bobby dan Joe saling pandang.
“36 B”
“38 A”
“36 D”
“Yang paling gampang : 36 O.” jawab gue, singkat.
“Mana ada bra ukuran 36 O. Yang ada juga 36 B, C atau D.” sergah Joe.
“Karena saking gedenya, makanya pake istilah 36#O…Oooh, My Ghost…Oooh, My Goodness…!” gue terdahak, uupss terbahak maksud gue…
“Sialan lo!” gerutu Bobby.
“Yang paling pas sih, 36 D…alias 36 Dolll…” ceplos Joe sambil tertawa.

Bicara payudara perempuan, memang tidak ada habisnya. Entah sudah berapa kali, gue bersama teman laki-laki terlibat obrolan dengan tema yang sama. Kemarin, hari ini, besok atau lusa, obrolan seputar payudara itu selalu terulang dan berulang lagi. Mungkin, sebagai salah satu sex-appeal perempuan, payudara memang menarik. Buktinya? Selain selalu jadi bahan pembicaraan, bisnis silikon dan segala macam terapi dan obat-obatan untuk memperbesar payudara tak pernah sepi di pasaran. Segala jenis merek berlomba-lomba memasang iklan di media cetak dan elektronik, menggaet pangsa perempuan yang tidak pede dengan ukuran payudaranya.

Tidak hanya itu. Di industri seks pun, sejumlah tempat hiburan yang menawarkan jasa pelayanan seksual juga menjadikan simbol payudara besar sebagai ikon jualan. Lihat ada ada menu Pijat Dada Super atau Body Massage 36 B yang tersebar di sejumlah tempat pijat dan kebugaran di kawasan Mangga Besar, Hayam Wuruk dan Pecenongan (ketiga kawasan itu masuk wilayah Jakarta Barat) laris manis seperti handphone merek Nokia; dari menu gadis-gadis lokal sampai mancanegara (Uzbek, Cungkok atau Thailand).

Kesimpulannya? Bagi gue, ukuran besar kecilnya payudara tidak lah begitu penting. Masing-masing punya kelebihan tersendiri kok. Percaya deh! Walaupun mungkin, gue termasuk laki-laki yang pastinya, akan mendapatkan shock-therapy sesaat, ketika bertemu perempuan dengan bra berukuran 36 B ke atas. Tanpa sadar, gue pun sering mengeluarkan komentar di dalam hati.
“Kayaknya, yang ini branya di atas 36 B atau 36 # O…?!”
Ups !!!.
*******
Gurauan indah saat gue masih duduk di semester VI, I miss u all, Ervand, Bobby and Alm.Joe L