Kamis, 30 Desember 2010

Kami kalah, Kami bersatu


Kami kalah, kami belum terlahir sebagai pemenang.
Kami belum bisa kembali menjadi macan ASIA.
Tapi kami bersatu, kami bangga.
Bangga bukan hanya urusan predikat kalah atau menang bukan?
Kami pun berhak bangga.
Bangga untuk dapat kembali berjuang.
Bangga untuk kembali menyanyikan lagu indonesia raya dengan hati.
Bangga untuk Garuda.
Bangga untuk Indonesia.
Bangga untuk rakyat.
Kami bangga telah belajar, Kami bangga dalam kekalahan.
Dan kami tahu, Kami mampu berjuang.
Kami mampu membangunkan macan kami.
Terimakasih untuk kekalahan, Kami MASIH akan terus berjuang.
Bukan hanya untuk lapangan hijau, tapi untuk segalanya.

KAMI INDONESIA

Rabu, 22 Desember 2010

Meratapi Kebahagiaan

Apa yang kurindukan saat ini? Menangis di sudut bibirmu.

Lalu, membiarkan diriku meratapi kebahagiaan yang menjamu barisan hari, saat atau tidak bersamamu. Hari itu, detik ini, dan —mungkin, nanti.

Sejauh melangkah, tak surut membabibuta jejakku menilas ranah penyatuan perasaan dari keterpisahan —jarak juga kenyataan.

Memerdekakan diri sejenak, lalu bertekuk lutut pada hatimu —lagi, satu-satunya.

Hanya itu, kuasaku sepertinya.

Sabtu, 06 November 2010

Sahabatku, Luka



Ah ya, masihkah kau mengingat, aku pernah berkata bahwa aku begitu bersahabat dengan luka. Begitu erat bahkan. Meski terkadang, aku ingin sekali melepas segala yang begitu sering membuatku memproduksi bulir-bulir air mata yang tak seharusnya jatuh. Sering pada saat dan waktu yang tak tepat.

Dan jika aku mengingatkanmu tentang ini, kau juga pernah berkata, bahwa kaulah yang kelak akan mengenyahkan luka ini. Tak akan membiarkannya berkerak disana. Didalam hatiku yang seharusnya hanya berisi kasih. Itu katamu. Ketika kita masih saling menggenggam tangan dengan erat. Ketika kita masih menyusuri jalan dengan tawa dan senyum bersama. Ketika luka, sempat menghilang untuk beberapa saat.

Ah, aku masih mengingat manisnya perih yang akhirnya kau torehkan juga disini. Dihati yang mestinya hanya berisi cinta, bukan luka. Tapi langkah, terkadang tak seperti yang kau pikir. Bahwa ketika akhirnya diujung jalan sana kau memutuskan untuk berbelok tanpa sempat mengajakku, tak sepatah yang sempat tersampai. Hanya hampa. Kembali hampa.

Taukah kau, bahwa meski aku telah bersahabat erat dengan luka, tak urung perih itu sempat terasa juga. Taukah kau, meski aku tau bahwa kau tak akan lagi melewati jalan yang sama, aku tetap menunggumu disana. Berharap kau akhirnya mengingat sesuatu. Tentang aku. Tentang kita. Dan tentang segala harap yang pernah kita bangun bersama. Kemarin. Ketika luka sempat bersembunyi untuk beberapa waktu.

Ah ya, tak perlu khawatir. Esok pagi, ketika aku terbangun dan tak mendapatimu didekatku, aku tak akan bersedih lagi. Karena luka, sahabatku itu, telah begitu rupa mengajarkanku untuk menikmatinya. Dengan atau tanpamu. Toh aku bisa kembali menghampakan hatiku. Serupa ruang minus oksigen yang membuat gravitasi menjadi tak punya tempat.

Dan hey, meskipun aku akan kembali sendiri disini. Didalam liang serupa luka yang begitu dalam tak berdasar ini, serupa hampa yang menggelap tanpa sinar, serupa ruang tanpa gravitasi ini. Aku tak akan mengingkari, bahwa bersamamu, pernah begitu indah.

Aku akan baik saja. Tak perlu khawatirkan kesendirianku. Berjalanlah terus, karena kelak kau akan menemukan bahagiamu disana. Aku hanya merasa hampa, itu saja. Lain tidak. Tapi setidaknya, disini, didalam sini, dibalik kehampaan yang terasa begitu nikmat ini, aku masih bisa merasa. Merasa hampa.

PS : It's about nothing. Semacam ingin menggalau, malam ini. Itu saja.

Rabu, 29 September 2010

Dalam Hujan, Tersimpan Jejakmu...

Apa yang kurekam dari hujan siang ini? Larik-lari rindu yang menghias rintiknya saat kita bercanda tawa berdua, di suatu hari tanpa nama.

Sebuah cerita yang membelah hujan. Dalam magis lirih rintiknya yang menorehkan bahagia, juga luka. Bersama!

Tawa-bahagia dan sedu-sedan tangis meramu satu. Dalam hujan itu, tersimpan jejakmu. Lewat riuh rintiknya, aku mengadu dan mengaduh pilu.

Aku katakan pada hujan, kita masih satu; seadanya-setiada-tiadanya. Karena kamu telah memenangkan hatiku, begitu juga aku.

Hujan boleh saja reda. Tapi tidak dengan rinduku. Kau telah merenggutnya tanpa sisa. Dan kini, tinggal lah kosong meraja.

Dan tetaplah dalam hujan. Karena di sana, aku terbiasa menari bersamamu.

Sabtu, 14 Agustus 2010

Aku Hadir, Meski Tak Ada


Jangan pernah tanyakan keberadaan ku. Aku memang tak ada. Aku hanya selalu hadir. Meski pada akhirnya mencoba untuk selalu bersembunyi. Bersembunyi darimu, duniamu dan hidupmu. Hingga aku meyakini, kau takkan pernah tau bahwa aku selalu hadir, meski memang tak ada.

Pahamilah. Pahamilah bahwa aku sedang mengakhiri tanpa pernah mencoba untuk memulai. Aku mengakhiri aku, sebelum mencoba memulai menjadi kita. Kita memang tak memiliki awal. Dan aku sadar sepenuhnya untuk itu. Kau telah memulai awalmu lebih dulu. Kau telah mengambil beberapa langkah pasti meninggalkan awalmu. Sedang aku? Aku bahkan belum sampai pada lokasi awal lintasanmu.

Jangan berpaling. Jangan biarkan aku menggantungkan harapan didepan mata. Karena aku tau pasti, ketika semua hal itu terjadi maka aku takkan memiliki kekuatan untuk tidak bergegas berlari menuju lintasanmu. Menuju awalmu. Jangan ulurkan tanganmu. Karena aku takkan memiliki kemampuan untuk menolak genggamanmu.

Tetaplah pada posisi mu. Silahkan berlari, berjalan atau beristirahat sejenak asal kau tetap pada posisimu. Posisi tanpa aku. Tetapkan pandangan pada tujuanmu. Tujuanmu yang jelas-jelas bukan aku. Lalu aku akan menjadi salah satu penonton. Bersembunyi dibalik beberapa penonton lain. Memberi semangat ditengah teriakan penonton yang memberi mu semangat.

Takdir memang seperti ini. Aku hanya ditakdirkan untuk hadir, dan bukan ada. Takdir memang seperti ini. Mengharuskan kau ada dalam lintasan, sedang aku hanya cukup duduk pada tribun hidupmu.

August, 2010
*tataplah masa depanmu Ms.boo dgn aku yang selalu ada di belakangmu

Selasa, 20 Juli 2010

 "Rasa Ini Tertahan,,
Namun Justru Semakin Hebat Bertahan .."

Rabu, 23 Juni 2010

Mencintaimu, Sulit.

"...Ini sulit."
"Tinggalkan saja aku kalau memang sulit."

"Mencintaimu itu sulit, tapi meninggalkanmu akan jauh lebih sulit."

Rabu, 26 Mei 2010

Pria Kecilmu, Paa

Cinta untukmu bukanlah seperti cinta pada orang lain. Cinta untukmu itu berarti mencintai dalam diam dan bukan dengan kata. Cinta untukmu itu berarti berbentuk tindakan. Cinta untukmu itu akan selalu berbentuk cinta dari anak kecil. Sederhana. Sesederhana Kau mengekspresikan segalanya. Sesederhana aku membuktikannya.

Cerita tentang kita, entah harus berapa banyak yang harus kutuliskan. 20 tahun lebih bukanlah waktu yang sedikit untuk dikisahkan. 20 tahun. Ternyata sudah selama ini kau memperjuangkan segalanya untukku. 20 tahun yang cukup sulit ya? Kau ternyata adalah orang hebat yang mampu bertahan selama 20 tahun ini, dan kurasa untuk 20 tahun kedepan kemudian 20 tahun kedepan lagi. Sampai aku berada pada titik tidak mampu mengisahkan lagi segala hal tentang kita, Kau tetaplah sosok hebat.

Jadi harus ku awali dari mana kisah kita? Bagaimana kalau tentang Kau yang selalu terlambat menyadari bahwa aku bukan lagi ada dalam kategori anak kecil? Ya. Saat semua orang mengatakan bahwa aku sudah besar dan pantas untuk dilepas di kota yang lain, Kau justru mengatakan dengan lantang bahwa aku masih terlalu kecil. Atau ketika semua orang menyatakan dengan jelas bahwa sebentar lagi mungkin akan ada upacara pernikahan yang harus kau adakan, Kau justru sibuk mempersiapkan lanjutan sekolah ku. Atau ketika semua orang menanyakan pasangan padaku, Kau sibuk menyuruhku kuliah. Atau ketika banyak orang merencanakan untuk bekerja pada usia 22 tahun, sedang Kau justru mengatakan aku masih terlalu kecil untuk bekerja. Dan usia 20 tahun ternyata tetap saja Kau pandang sebagai angka yang masih pantas disebut kecil. Entah pedoman mana yang Kau anut. Sampai sekarang akupun masih kurang mengerti.

20 tahun yang lalu, aku masih dalam gendongan mu. Dan saat ini seharusnya aku tidak lagi berhak mendapatkan gendongan, bukan? Kau tidak lagi muda. Aku bukan lagi bayi. Kau sudah mulai menua. Sedang aku dalam tahap pendewasaan. Pada nyatanya, aku tetap saja masih dalam gendongan mu. Meski dalam kuantitas yang berbeda. Jadi, apa itu berarti aku masih saja dipandang kecil? Saat ini, aku memandang foto mu yang mencium ku saat aku masih bayi. Kupikir, ciuman itu takkan pernah ada lagi. Kupikir ciuman itu hanya dianugrahkan untuk bayi-bayi mungil saja. Nyatanya, masih tetap ada ciuman itu untuk aku yang berusia 20 tahun. Lagi-lagi, apa ini karena Kau yang selalu memandang ku masih dalam sosok anak kecil? 

Paa, kisah ini ada bukan karena aku benci. Kisah ini ada bukan karena aku tak suka. Kisah ini justru kisah paling indah yang kurasa pantas untuk kupamerkan. Untuk ku ceritakan. Entah apa maksud dari segala tindakan mu, tapi biarlah aku menganggap ini adalah cara mu menyayangi ku. Biarlah aku menganggap ini adalah caramu menunda kedewasaan ku, agar Kau tak terlalu cepat melepaskan tanggung jawab mu atas aku. Biarlah aku menganggap ini adalah caramu untuk tetap memiliki pria kecil mu dulu. Biarlah ku pamerkan kisah ini kepada anak-anak ku kelak, agar dia tahu betapa Kau menyayangi anakmu dan begitu bangganya pria kecil mu dulu memiliki seorang aah seperti mu.

Maaf untuk segala hal yang kubantah atau harapan mu yang ku pupuskan. Maaf untuk tuntutan yang terlalu besar saat berhadapan dengan mu. Maaf untuk sayang yang tak pernah terucap. Maaf untuk kesulitan yang kuhadirkan. Atau kehadiran yang membuatmu bingung. Maaf untuk sikap kritis yang terlalu tajam. Maaf untuk perjalanan yang mungkin kurang Kau kehendaki.

Terimakasih untuk bertahan sampai pada titik ini. Terimakasih untuk keberadaan mu. Terimakasih untuk segala perjuangan. Terimakasih untuk usahamu. Terimakasih untuk kisah yang dulu sering kau ceritakan. Terimakasih untuk pengorbanan. Terimakasih untuk prioritas yang Kau ciptakan untuk keluarga. Terimakasih untuk pelajaran hidup yang sering Kau gambarkan. Terimakasih untuk hal-hal terbaik yang selalu Kau coba untuk dihadirkan. Terimakasih untuk kebanggaan yang tetap ada meski aku tak pernah sesuai dengan ekspektasi mu.

Oh,Tuhan.
Rangkul lah ia dalam kehangatan di SurgaMu,
Tuhan, sampaikan kepadanya betapa aku merindukannya, betapa aku kehilangannya.

Aku masih akan tetap menjadi pria kecil mu, Paa. 

Minggu, 23 Mei 2010

36#O (Oooh, My Ghost…Oooh, My Goodness…!)

Ukuran tidak penting ! Itu pendapat sebagian orang. Ukuran sangat penting ! Itu pendapat sebagian orang yang setuju. Stop! Ini soal ukuran apa? Ukuran baju, sepatu, atau alat vital? Tiga-tiganya bukan. Yang pasti, ini soal ukuran buah dada perempuan atau biasa juga disebut payudara. Ada juga yang menyebutnya dengan beberapa istilah lain yang konon kabarnya lebih sopan untuk diucapkan : bukit kembar, gunung kembar, tetikadi dan lain-lain. Saya lebih suka menggunakan istilah payudara. Kesannya lebih blak-blakan dan apa adanya. Daripada pesan tidak sampai gara-gara salah idiom, mendingan bicara terus terang biar langsung ke pokok sasaran.

Agak lucu memang kalau sudah debat soal ukuran payudara perempuan. Gue bukan perempuan, tapi gue sangat dekat dengan kehidupan perempuan. Ditambah lagi, gue punya segerombolan teman laki-laki yang juga dekat dengan perempuan dan sangat suka membicarakan lika-liku dunia keperempuanan. Sebagian besar teman laki-laki gue itu lebih sering menghabiskan waktu senggangnya dengan ber-afternoon tea di kafe mal sambil ber-window shopping (cuci mata) atau ber-dugem ria alias clubbing pada malam-malam gaul (Rabu, Jum’at & Sabtu) ke sejumlah kafe-lounge-diskotik trendsetter.

Salah satu topik pembicaraan yang tak pernah basi, ya itu tadi, soal payudara. Bagi perempuan, bagian tubuh yang satu ini termasuk dalam katagori sex-appeal. Paling terbuka sehingga gampang dilihat meskipun tertutup baju dan sering dijadikan bahan terkaan, terutama menyangkut ukuran. ‘Coz termasuk katagori sex-appeal, tidak heran kalau banyak laki-laki suka membicarakannya. Apa yang terbayang di benak Anda ketika menyebut nama Pamela Anderson atau Dolly Parton? Huahahaha, kalo gue mah pertama kali teringat dengan ukuran payudara mereka yang super besar dan mempunyai ukuran di atas rata-rata itu. (insap gio!! Insap)

“Eit, tunggu dulu. Tidak semua laki-laki suka dengan perempuan berdada besar?” sergah Ervand, 24 tahun, ketika gue bertemu dia di Soerabi Enhaii, Bandung. Ada dua teman gue lagi : Bobby dan Joe (Alm), yang tak urung langsung tergoda untuk ikut berdiskusi.
Joe : “Kalo gue demen yang gede,”
Bobby : “Kenapa?”
Joe : “Secara psikologis, gede itu jadi jaminan kepuasan.”
Ervand : “Kok bisa?”
Joe : “Kalo gede kan gampang dilihat, diraba dan diapa-apain,” (jawab Joe, simple)
Guw : “Gue nggak. Gue demen yang sedang-sedang saja,”
Ervand : “Kenapa?”
Gue : “Dimana-mana yang sedang-sedang itu paling moderat, paling balance. Besar kecil, buat gue nggak terlalu penting. Yang penting, tidak lembek !” (gue ikut memanaskan suasana diskusi informal, sore itu)
Bobby : “Dari mana lo tahu lembek atau nggak?”
Joe : “Cek dulu baru coba,” (sambar Joe)
Gue :“Emangnya jajajan pasar bisa dicek dulu. Gile lo ya !”

Pembicaraan plus jawaban yang muncul akan sangat beragam. Itu pasti. Jadi kalau ada pertanyaan : siapa yang tidak suka dengan buah dada perempuan berukuran besar? Jawabannya sangat personal. Tidak gampang menebak selera laki-laki. Masing-masing punya selera yang berbeda, apalagi untuk urusan seksual. Melihat mungking semua laki-laki suka tapi kalau sudah bicara selera, jawabannya nanti dulu. Suka melihat bukan berarti itu mengindikasikan selera. Suka membicarakan, belum tentu juga mewakili selera. Untuk urusan yang satu ini, laki-laki bisa dibilang misterius, tidak kalah misteriusnya dengan dunia perempuan.
Tapi yang patut digarisbawahi adalah sebagian laki-laki suka membahas dunia perempuan, apalagi kalau itu menyangkut wilayah sex-appeal. Salah satunya, ya payudara. Itu sudah jadi rahasia umum. Di kafe, di mal dan di sejumlah tempat tongkrongan, diskusi seputar sex-appeal perempuan, selalu menarik perhatian. Apalagi kalau sudah membahas ukuran payudara perempuan, tak ubahnya masuk dalam diskusi yang mengundang adrenalin tersendiri. Gue, Ervand, Bobby dan Joe, menghabiskan waktu tak kurang dari dua jam untuk membahas soal payudara perempuan. Gile! Itupun pembicaraan juga belum usai.

“Punya dia seperti ceplok telur.” Itu istilah mereka yang berdada kecil atau berdada rata.
“Punya dia pasti bertipe pepaya.” Itu satu ungkapan untuk mereka yang punya payudara besar dan panjang.
“Kalau punyanya si dia seperti buah melon.” Yang satu ini, istilah untuk mereka yang berpayudara besar dan bulat.

Itu baru soal bentuk. Belum lagi kalau masuk ke soal ukuran. Jangan dikira kaum laki-laki tidak tahu dan enggan membicarakannya. Malah kebalikannya!

“Branya pasti nggak lebih dari 32 A,” Joe mencoba menakar ukuran bra seorang perempuan yang berjalan di escalator.
“Yang itu sih tebakan gue lebih dari 34 B,” Bobby tak mau ketinggalan.
“Kalo yang di ujung itu, minimal 36 C deh,” Ervand pun ikut-ikutan.
“Sok tau. Kalo dia pake tambelan, gimana?” Sambar gue
“Periksa saja sendiri kalo nggak percaya,” sungut Bobby.
“Nggak usah jauh-jauh. Pamela Anderson itu ukuran bra-nya berapa?” gue melemparkan pertanyaan yang membuat Ervand, Bobby dan Joe saling pandang.
“36 B”
“38 A”
“36 D”
“Yang paling gampang : 36 O.” jawab gue, singkat.
“Mana ada bra ukuran 36 O. Yang ada juga 36 B, C atau D.” sergah Joe.
“Karena saking gedenya, makanya pake istilah 36#O…Oooh, My Ghost…Oooh, My Goodness…!” gue terdahak, uupss terbahak maksud gue…
“Sialan lo!” gerutu Bobby.
“Yang paling pas sih, 36 D…alias 36 Dolll…” ceplos Joe sambil tertawa.

Bicara payudara perempuan, memang tidak ada habisnya. Entah sudah berapa kali, gue bersama teman laki-laki terlibat obrolan dengan tema yang sama. Kemarin, hari ini, besok atau lusa, obrolan seputar payudara itu selalu terulang dan berulang lagi. Mungkin, sebagai salah satu sex-appeal perempuan, payudara memang menarik. Buktinya? Selain selalu jadi bahan pembicaraan, bisnis silikon dan segala macam terapi dan obat-obatan untuk memperbesar payudara tak pernah sepi di pasaran. Segala jenis merek berlomba-lomba memasang iklan di media cetak dan elektronik, menggaet pangsa perempuan yang tidak pede dengan ukuran payudaranya.

Tidak hanya itu. Di industri seks pun, sejumlah tempat hiburan yang menawarkan jasa pelayanan seksual juga menjadikan simbol payudara besar sebagai ikon jualan. Lihat ada ada menu Pijat Dada Super atau Body Massage 36 B yang tersebar di sejumlah tempat pijat dan kebugaran di kawasan Mangga Besar, Hayam Wuruk dan Pecenongan (ketiga kawasan itu masuk wilayah Jakarta Barat) laris manis seperti handphone merek Nokia; dari menu gadis-gadis lokal sampai mancanegara (Uzbek, Cungkok atau Thailand).

Kesimpulannya? Bagi gue, ukuran besar kecilnya payudara tidak lah begitu penting. Masing-masing punya kelebihan tersendiri kok. Percaya deh! Walaupun mungkin, gue termasuk laki-laki yang pastinya, akan mendapatkan shock-therapy sesaat, ketika bertemu perempuan dengan bra berukuran 36 B ke atas. Tanpa sadar, gue pun sering mengeluarkan komentar di dalam hati.
“Kayaknya, yang ini branya di atas 36 B atau 36 # O…?!”
Ups !!!.
*******
Gurauan indah saat gue masih duduk di semester VI, I miss u all, Ervand, Bobby and Alm.Joe L


Selasa, 06 April 2010

Cinta dan Waktu


aku ingin mencintaimu seperti waktu ..
selalu berjalan beriringan dan tanpa ada niat untuk meninggalkan ..
aku ingin mencintaimu seperti waktu ..
akan selalu berjalan tanpa bisa diminta untuk berhenti ..

bahkan walau semua jam di dunia memutuskan untuk berhenti berdetak ..
waktu tetap berjalan ..

Kamis, 25 Maret 2010

Catatan Kecil Mahasiswa Exacta Yang Ga' Betah Nongkrong Di Lab*

Note ini terinspirasi ketika aku tengah mengikuti latihan voli di kampus. Rasanya asik juga bila melihat teman-temanku melayang-layang di depan net saat khendak men-spike bola ke daerah lawan. Memperhatikan setiap gerakan, langkah dan posisi badan yang siap melompat menyambar bola yang dilambungkan tosser. Tentu saja diperlukan pukulan lengan yang kuat juga vertical-jump yang superhigh jika ingin melakukan spike dengan optimal...

Mungkin begitu...hhh.. Dan aku salah satu dari mereka yang mencobanya, lumayan... men-spike bola voli ternyata bisa menjadi alternatif untuk melampiaskan kemarahan, rasa senang, sedih atau bahagia sekalipun. Emosi kita bisa tersalurkan dengan membanting bola sekuat-kuatnya di atas net... Bermain voli juga bisa dijadikan suatu event "nge-refresh-in" diri setelah lelah berpenat dengan kegiatan perkuliahan di kampus yang super membosankan.

Ups..! kata-katanya EYD banget ya.. ganti deh

'Maen voli juga ga beda jauh halnya dengan yang namanya nge-drugs. Efek sampingnya bisa bikin sakau (bersifat bikin ketagihan) yang nyobainnya. Gue salah satu dari korbannya, lupa sama kuliah. Kadang kalo dipikir-pikir, "Masuk ITB tuh mau ngapain coba? ko kuliahnya jadi di lapangan voli???....Hmm, nyantei-nyantei, kuliah gampang ko, masih ada taun depan kalo emang nilai-nilai semester skarang jeblok-jeblok..." Haaah..jadi ngegadein IPK cuma gara-gara voli..!!

Ga tau juga nih.. banyak korban gara-gara ketagihan main voli, rela ngelakuin latian apa aja seperti lari-lari di siang bolong sampe kulit jadi item, mungkin tujuannya buat ngelatih stamina kali ya.. ato istilah Sunda-nya, "Meh teu jariged awak teh...", maksudnya "biar badan berasa ringan sama flexibel" pas maen voli terutama pas mau loncat..lebih keren ketika mau spike/smash bola, dicampur sama gerakan lentingan badan saat posisi melayang di depan net..

Dan mungkin latian (sit-up, back-up, push-up sama latian matriks) kali ya yang cocok biar bisa nguasain teknik itu.. Secara ga langsung, nyadar ga nyadar semua gerakan itu bisa bikin bentuk badan jadi ideal.. ato istilah *saykoji-nya "punya badan seksi.... sixpack berselulit dan mulus...". Dan mungkin ada juga sebagian orang yang nambahin metode latiannya dengan pergi ke Gym buat maen fitness.. ah, whatever lah..!

Balik ke kuliah...

Saking bete-nya kuliah, gua jadi inget sama setiap aktivitas gua ktika di kelas sama di lab*. Ngiler pas waktu di kelas, enak-enakan molor di saat dosen nerangin materi kuliah yang menurut gua ga asik banget buat didengerin. Ato duduk di kursi paling belakang trus baca buku sejenis novel ato apalah yang sengaja gua bekel dari rumah.

Dan kalo udah ada kuliah praktikum di lab*, gua lebih seneng males-malesan dan ga pernah ikut kerja kelompok buat nyelesain tugas praktikum... picik banget ya..?? Sorry mameeenn, hoamm...!! Sesampai ketika mau UJIAN.. metode "SKS", ato istilah kepanjangannya sistem kebut semalam uda ga asing lagi buat dilakonin.. Mahasiswa oh mahasiswa...

Dan hari ini gua nyadar, nyadar kalo gua udah lupa sama sesuatu yang harus diprioritasin di kampus.. dan nyadar bukan berarti udah bisa ngerubah apa yg uda disia-sia-in di masa lalu.. gua bneran harus berjuang super ekstra buat benerin mulai hari ini sampe kedepan, sampe gua jadi orang. ah, males banget siihh.

Jatinangor. Bandung-Sumedang Km-21 45363

Kamis, 18 Maret 2010

Untitled

Ini bukan tentang kamu ..
Ini tentang aku memandang kamu ...

Selasa, 16 Maret 2010

After The Funeral

Pertama-tama, sekarang lagi banyak banget lomba penulisan, dan ini yang paling lucu,
lomba ngasih komentar dalam 140 karakter (kayak twitter) hahaha.

Buat yang mo ikutan klik:

http://www.waktunyahpmini.com

Cuman nulis dikit aja dapet laptop. :D

***

Okay. Here goes, gue harus nulis ini:

Temen baik gue meninggal minggu lalu.
Temen gue dari SMA sampe sekarang.
One of the smartest friends I got.

Kabar duka itu menabrak gue tiba-tiba di tengah pagi buta, lewat sebuah SMS. Begitu gue baca SMS yang mengabarkan dia meninggal, di saat itu pula gue diem lama. It made me think. Ketika salah satu dari teman baik lo meninggal, di saat itu juga kita sadar bahwa, we are not invincible. Sebelumnya, gue selalu menganggap kematian sebagai suatu hal yang jauh dari diri gue. Gue selalu berpikir, “Well, men, gue masih 22 tahun, gue gak mungkin kenapa-kenapa! Orang jarang ada meninggal umur 22 tahun. Gue bakal mati karena tua.” Sekarang, kematian temen gue ini seperti semacam wake-up call bagi gue. Bahwa no, you are not invicible. It could be you. Umur gak ada yang tahu.

So, keesokan harinya,
I came to him funeral.

Dan sewaktu gue dateng ke pemakaman dia, ada temen-temen gue juga di sana. Di antara temen-temen gue yang dateng, ada yang enggak terlalu kenal sama dia. Ada yang udah kenal banget. Ada yang dulu temen sekelas. Ada yang emang baru deket setelah lulus. Bermacam-macam temen dateng ke sana, tapi mereka punya satu kesamaan: they wanted to see him for the last time. Mereka sayang sama temen gue itu. Mereka menyayangkan kenapa hidupnya harus selesai secepet itu.

As I sat outside, di kursi yang disediakan untuk pelayat, ada yang bilang, “Sayang banget ya, orangnya baik.” Gue sendiri bilang, “Dia bener-bener salah satu orang yang menginspirasi gue”. I know we shouldn’t talk about the dead pas lagi ngelayat. But I can’t help it. He really inspires me. Tulisan-tulisan dia witty, cerkas. Dia pintar. Gue suka banget ngobrol sama dia. Dia mengenalkan gue pada banyak penulis. And then I saw him di pembaringan, smiling peacefully. Kayak tidur nyenyak. So, this is death, my friend? Is it this peaceful?

And you know what? Duduk di antara pelayat-pelayat itu, I can’t help to wonder: gimana ya pemakaman gue nanti? Yes, kadang gue suka berkhayal, seperti apa pemakaman gue nanti. Apa banyak yang datang? Apa ada yang datang? Apa yang mereka bakal bilang tentang gue? Apa kenangan yang mereka inget tetang gue? Apa ada yang rela nyetir mobil, susah-susah parkir, untuk ngeliat gue untuk terakhir kali ya? Apa iya, ada?

Kadang gue ngerasa, kematian adalah topik yang sensitif untuk kita.
Sesuatu yang “ada” tapi selalu kita deny keberadaannya.
Living is constant denying for death.

Kita hidup di dunia ini seolah-olah kematian tidak exist. Kita makan, kita bercanda, kita karaoke, kita jatuh cinta. We forget about death. We are too busy with our distraction. But it is there. And when it hits, it hits hard. Gue udah kehilangan bonyok gue. I But I never feel this sad kehilangan temen gue yang satu ini. Gak tau kenapa. Mungkin karena gue keilangan bonyok dalam waktu yang berdekatan?? Atau mungkin gue gak terlalu deket sama bonyok gue? Atau mungkin, temen gue ini, yang gue anggep cerdas, pinter, baik, tadinya invincible tapi akhirnya bisa juga dipanggil sama Yang Maha Kuasa? I don’t know.

Pulang dari pemakaman, nyetir mobil sendirian, gue ngerasa kecil. Gue ngerasa gue harus make something out of life. Badan ini dipinjamkan. Setiap tarikan napas, adalah satu tarikan napas lagi mendekati kematian. Kita harus ngebuat lebih banyak karya, lebih banyak menikmati hidup, lebih banyak mengambil kesempatan. Hidup ini cuman sekali. Akan sangat sayang untuk kita buang begitu aja. I have to enjoy life.

And, mungkin gue suatu hari bakalan mati, tapi gue pengen ngebuat sesuatu yang enggak bakal mati. Katanya Chuck Palahniuk, “The goal is not to life forever, but to create something that will.” Hidup terus. Dengan apa pun.

Temen gue itu,
tidak akan pernah gue lupain.

Gue juga gak mau dilupakan.
Gue gak mau hanya menjadi semacam nama yang hilang begitu saja.

Nama yang dipajang di atas semacam nisan, yang mungkin pertama-tama sering dikunjungi,
namun lama-lama semakin jarang. Hingga pada akhirnya hanya menjelang bulan puasa.
Nama di sebuah nisan yang berlumut. Usang. Bau. Ditakuti orang lewat.

Dan sewaktu hidup, gue gak mau jadi semacam jiwa yang memenuhi bumi ini,
menyesaki kota ini,
sama-sama makan, minum, berak, bicara. Untuk apa?

Gue mau jadi spesial.
Or, I wan’t to die special.

Goodbye Aldo,

Sabtu, 20 Februari 2010

Dia, Pusat Kebahagiaan. I Love You Mom


Mari bicara tentang Dia. Dia yang menjadi pusat kebahagiaan. Dia yang hidup sebagai poros kehidupan. Dia yang menjadi pemilik sebagian besar hati sampai saat ini. Dan mudah-mudahan sampai seterusnya.

Dia wanita tangguh. Bukan, Dia bukan wanita yang tidak menangis saat masalah menghadang di tengah perjalanannya. Dia wanita yang tetap mampu menegakkan badannya, berdiri dengan tegak dan berjalan seperti biasa setelah air mata selesai menunaikan tugasnya. Dia wanita sabar. Bukan, Dia bukan wanita yang sama sekali tidak pernah mengeluarkan amarah yang ada pada dirinya. Dia wanita yang tetap bersedia berada pada hari-harinya. Pun ketika hari-hari tersebut seperti menusuk nya perlahan.

Aku pernah bertanya, seperti apakah bentuk cinta sejati. Seberapa nyata keberadaannya. Dan ternyata Dia lah bentuk cinta sejati. Tanyakan padanya tentang bagaimana Dia mencintai orang lain, maka itulah bentuk cinta sesungguhnya. Dia adalah mahacinta.

TUHAN, jangan gantikan Dia dengan apapun yang ada pada dunia ini. Karena sungguh aku tak  mengharap apapun selain kehadiran Dia.

Maaf untuk kalimat sayang yang belum pernah terucap, Ma. Anggaplah tulisan ini sebagai bentuk pengganti dari kalimat itu, walaupun aku tau mama tidak akan pernah bisa membacanya kan? Biarlah. Aku hanya ingin menuliskannya untukmu, untukmu yang sedang memandangku di Surga sana. I miss u Ma