Di tirai pagi kubersandar pada dinding
kesedihan Di senandung alam kuberbaring pada rajutan kerinduan
Telah
jauh jarak antara kutub-kutub tubuh kita Membentang kerinduan
didalam anak-anak sungai diujung mata kita
Coba
kukumpulkan keindahan dunia untuk ganti hadirmu Coba kupilah yang
terbaik untuk isi kerinduanku
Dunia takkan mampu
menggantikanmu Pilahan yang terbaik takkan lagi coba kuisi dalam
rinduku
Dunia...ah apalah arti dunia ketika surgapun ditelapak
kakimu Menopang segala yang ada ditubuh, hati dan luangan kasih
sayangmu Hingga begitu indah setiap detik dalam rahimmu Hingga
begitu indah setiap detik dalam gendonganmu Hingga begitu indah
setiap detik dalam pangkuanmu Hingga derita kau rasa indah demi
anandamu
Lalu...kenapa hanya rindu yang ananda punya untuk ibunda
Tidak
bunda... Rindu ini hadir dalam Doa anandamu Agar surga selalu
hadir untukmu Bukan hanya ditelapak kakimu
kelak ketika usia tua datang, ingatan kembali dihidupkan. lalu
tiba-tiba ada yang tumbuh dari waktu, deretan kata yang pernah engkau
semaikan ke telingaku waktu itu, beberapa waktu lalu. janji yang pernah
mati-terkubur rongsokan ingatanku dan ingatanmu yang berkarat itu.
kelak ketika usia tua datang, janji kembali menagih dan menguji.
kata-kata lamamu akan tumbuh jadi sebatang pohon yang lagi dan lagi
gugur daun-daun dan bunganya, seperti raut dan rambut kita di hadapan
maut.
untuk itu aku menyiapkan puisi ini sebagai lahan bagi pohon yang
kelak biji-bijinya berdahan, beranting, dan beranak-pinak menjadi
pohon-pohon lain itu. agar nanti arwahku tenang sebagai seekor burung
hutan.
INI sungguh-sungguh sebuah kutipan yang lucu, bukan?
Kesimpulan adalah tempat istirahat saat lelah berdebat.
Maaf, saya sudah lupa. Kamu ingat berapa jumlah kesimpulan yang
pernah kita buat lalu ulang menyusunnya agar terlihat lebih indah dari
sebelumnya? Kalimat-kalimat lama itu di mana kita sembunyikan—setelah
yang baru kita temukan? Di dalam puisi seorang penyair yang kekurangan
metafora. Barangkali.
Kita bercinta seperti sepasang sado-masocist. Tetangga
mendengar tangis-teriakan kita lalu mengumbar rasa kasihan dalam
gosip-gosip. Sementara kita puas dan mandi seperti sepasang anak kecil
dari kota yang baru menemukan sungai yang tidak terbuat dari bau
selokan. Namun pada pagi hari, kita berdiskusi sambil sarapan tentang
bagaimana cara paling tepat menyembunyikan sisa-sisa pertempuran yang
memerah di kulit kita. Ah, kita selalu begitu, malu memperlihatkan
hangat cinta!
Dan setiap pagi, di meja makan, kita membangun tempat istirahat baru.
KUTIPAN yang satu ini tidak kalah lucunya, Sayang. Dengar!
Siapa lebih dulu mencintai: kamu atau saya? Kita sama menunjuk dada
sendiri namun tak bisa menjelaskan mengapa bisa begitu. Pokoknya saya
lebih dulu! Pokoknya kamu kemudian! Rupanya memang tren berdebat
anggota dewan juga sampai di kamar tidur kita. Saya benar. Kamu tidak
benar. Bedanya saya mencintai kamu, kamu mencitai saya. Tetapi anggota
dewan itu hanya mencintai diri mereka sendiri.
Maka begitulah: kita tidak bisa bercerai meski kita terus saja
berkelahi. :)
Thank’s for those enormous attention Guys.. hahahaha banyak juga yang
khawatir kalo gue sakit-sakit gini.
Kayak nyokap gue kemaren nelpon..
Mama: Bg, kamu apa kabar? Luka nya udah sembuh? Susah banget dihubungi..
Gue: lagi demam gara-gara gusinya meradang, Ma.
Mama: HAH? KAMU SAKIT APA LAGI? KOK GA BILANG, ADUH MAAP MAMA LAGI-LAGI GA
BISA JENGUK KAMU.
Gue: ga apa kok ma, bukan masalah besar.
Mama: trus trus kamu udah minum antibiotiknya belum? Udah makn obat apa
aja? Aduh, sini mama telpon manager apartemen kamu yah biar kamu diurusin.mau
dirawat di rumah sakit?
Gue: ga apa-apa kok ma, cm geraham numbuh doank -__-
U get the idea
Dan kebiasaan gue nomer satu, ga pernah nganggep persoalan apapun besar
dampe akhirnya jadi persoalan besar.
Pas jamannya gue SD dulu kelas 3, gue di circumcision atau bahasa gaulnya
potong titit alias sunat. Gue itu bagaikan raja dirumah, kadang kalo dirumah
tinggal angkat telpon haha
Mama: bang,kamu gimana? Tititnya udah baikan?
Gue: iya, udah.
Mama: mama lagi di jalan, kamu mau jagung seger?
Gue: boleh ma, yang agak muda dikit... oh iya, ama mainan betmen yang baru
ya ma ya...
Voila...... langsung ada.
Jadi pengen disunat lagi. Abis abis deh. Ga apa kok, masih ada yang kanan.
Hahaha
Tapi sekarang pas gue jauh gini dari orangtua dan keramaian gue paling
parno-parno sendiri aja. Gue Cuma takut aja kena Typhoid alias tipes, abis gue
pengalaman banget kena gejala tipes dan itu ga banget deh L . Kalo sakit gini gue
pasti suka nebak-nebak kira-kira gue sakit apaan.
Dan setelah gue istirahat seharian drumah, dan akhirnya berangkat lagi
kuliah lagi kemaren, gue nanya ke Hundy Dickson di kelasnya dia, berbekal penuh
dengan kekhawatiran.
Gue: Hundy..
Dia: yes?
Gue: do we be any chance could have thypoid fever in Germany?
Dia: HUH? Thypoid? Dengan wajah merenggut-renggut kayak mau ngeden keluar
babi
Gue: Yeah!! Thypoid.
Dia: you can get high fever, you might have cold or flu but there’s wont
be any chance you will get thypoid. Not in Germany. NO WAY HAHAHAHAHAHAHA
Sumpah dia ketawa setan dengan keras banget.
Gue masih lega-lega aja pas dia bilang gitu
Abis itu ada dosen lain masukke kelas, dia langsung bilang ke dosen itu.
Dia: carefull, don’t go that away, there’s that THYPOID GUY OVER THERE.
HAHAHAHAHAHAHA
Dosen lain: HAHAHAHAHAHAHA
Anjiing
Well, so much for being cautious
Tapi anehnya kata-kata si Hundy Dickson yang menyatakan bahwa di Germany
kayaknya ga mungkin dapet tipes gue jadi berseri-seri, panas gue siangnya turun
dan gue udah bisa senyum-senyum dan gila-gila lagi layaknya ubi mekar yang
bersinar.
Don’t you know, terkadang pikiran kita itu bisa bgerubah total akan apa
yang kita rasain? Gue lupain satu hal penting, bahwa apa yang terjadi ama diri
kita, ga selalu harus itu yang kita rasain di hati. Tsaaah.....
Dan setelah jam makan siang gue ngerjain tugas Termo bareng Jaka di
balkon, di samping ruangan kelas. Lagi di balkon, karena energi gue berlebih
dan masih penuh, jadinya gue joget-joget di teras bagaikan putri malam yang
menjelma jadi remaja Afrika dari suku Hotentot yang baru mengalami sunatan
untuk yang kelimapuluh kalinya. Gue menggeliat dengan penuh rasa menggoda
sambil teriak-teriak nyanyi di balkon.
Jaka: bhuahahahhaaha. Lo gila banget sih FERG.
Gue: ALAMM RAYAA... YA YA YA.... LA LA LA *nyanyi-nyanyi dibalkon*
Setelah nyanyi-nyanyi dengan suara gue yang konon kabarnya dapat membunuh
lebih cepat dari racun serangga, gue pun duduk diem dengan manis manja di deket
balkon, sebelah kelas.
Tiba-tiba terdengar suara tawa orang ramai di sebelah gue
Ternyata disebelah tempat duduk gue ada kelas!!!
DAN DI KELAS ITU LAGI ADA PELAJARAN.....
Yang berarti mereka semua mendengar gue bernyanyi dengan lantangnya
Mereka melihat jogetan gue yang merupakan kombinasi dari gaya epilepsi
anak cacingan dengan joget cha-dut model monyet sirkus maen kuda lumping.
Gue ngeliat kesamping, ke arah pintu kelas, berharap mereka ga denger dan
menyaksikan salah satu tanda-tanda datangnya kiamat yang baru gue praktikkan
tadi. Kemudian pintu kelas dibuka dan salah satu cewe bule dengan tawa ditahan
ngomong ke gue dari balik pintu
“Sorry... Guys. Hmmmmffh... but... hmmmmffff.... can you keep it down
please? Hehe, hmmm cheers”
Selama gue disini sama temen2, perut gue makin seronok. Makanan demi makanan kita lahap seperti tidak ada hari esok. Hasilnya, 1 tahun perut gue bentuknya udah mengerikan. Gue tidak mengenalinya lagi.
Yang pertama bertanggung-jawab atas membuncahnya perut gue, adalah tempat makan besar yang ada di dekat apartemen yang kita diami. Di sini ada yang jualan fish meat ball enak banget, yang ngantrinya gak kira-kira. Untungnya gue membawa Ragil sebagai budak teman perjalanan yang bisa dengan terpaksa baik hati ngantriin makanan, sementara gue duduk doang nungguin dia
Ini yang paling enak dari jajanan pinggiran Muenchen, namanya Rojak, mirip-mirip rujak di Indonesia. Gue makan ini di blutenburgstrabe, tapi si Rojak ini ditaro di dalam gelas plastik, dan kita makan dengan cara nusuk-nusuk pake tusuk gigi buah-buahan di dalam gelas plastik tersebut. Agak beda dengan saos kacang rujak di Bandung, yang ini lebih manis. Kacangnya juga lebih kental.
Ngacak-ngacak Rojak..
Sewaktu gue transit di Tokyo dulu, gue suka banget makan Apple Pie yang ada di McD. Sayangnya Apple Pie McD udah gak ada lagi di Indonesia (dulu seinget gue ada, tapi gak tau kenapa sekarang gak ada lagi). Nah, pas di Muenchen, McD-nya juga menyediakan Apple Pie, enaknya masih sama:
Daaaan.. untuk makanan yang paling paling paling mantep adalah Egg Benedict with Smoked Salmon, gue lupa nama restorannya apa tapi yang jelas di Mandarin Plaza. Asli ini enak banget rasanya, campuran antara manis-manis dengan smoked salmon-nya yang asin. Mantap:
Itu tadi makanan favorit yang gue makan. Lalu apa yang Ragil makan? Ragil, seperti lazimnya abege labil metropolitan yang tidak mengerti enaknya makanan lokal, malah memilih untuk makan-makanan standar retail kayak es krim Hagen Daaz yang sebenernya bisa didapetin di mana aja. -___-
Apakah indra pengecapmu merasakan rinduku yang melumer di ceruk lidah?
Maka, cecaplah tanpa gelisah.
Maka, gelisahkan rinduku, dan biarkan meleleh hingga ke rongga rasamu.
Maka, tunggulah hujan datang. Aku akan disana, bersamamu; berbasah-basahan tanggalkan gerah.
Kamis, 01 Maret 2012
Segala dalil untuk membuatku kembali menghunus damba, kuingkari dengan membiarkan kecewa dan laraku mengendap dalam emosi yang membara. Membunuh rindu untuk bangkit lagi; menenggelamkan nurani pada altar tak berpenghuni.