Jumat, 29 Januari 2010

Sudah Cukup Denganmu Saja


Untuk transformasi dari perwujudan rasa, sang ekspektasi yang sungguh menganggu. Tidak cukupkah hanya berbagi dengan dirimu, Rasa? Tidak cukupkah bertahan hanya denganmu? Jangan bertransformasi ke dalam bentuk lain, apalagi bentuk ekspektasi. Jangan pernah! Aku tidak memerlukan keberadaan ekspektasi. Aku memang sedang sengaja memenjarakan asa.

Berulang kali ku peringatkan agar kau tidak bertansformasi menjadi ekspektasi. Bukan karena teori kesempurnaan yang kuanut. Atau karena perlindungan hati yang memang ku perkuat. Bukan karena itu. Ini tentang rasa  ketercukupan ku. Cukup dengan wujud mu saat ini. Cukup kau dan bukan bentuk transformasimu.

Pernah aku mencoba membuat logika mengingatkan hati. Tapi pada takdirnya mereka memang bukan hal yang dapat dengan mudah untuk dileburkan. Mereka berada pada dua sudut pandang yang terkadang memiliki perbedaan yang signifikan. Hati tetap memilih bergantung pada rasa ini. Dan logika hanya mampu menahan gerak tubuh ataupun pikiran, agar merasa cukup. Cukup dengan pemilik tunggal hati, Rasa. Tanpa harus bergandengan dengan ekspektasi.

Rasa, aku tak meminta masa depan padanya. Sudah cukup denganmu saja. Aku tak meminta kepastiannya. Sudah cukup dengan keberadaannya saja. Jadi, tolonglah jangan mengahadirkan ekspektasi dalam arah mu.

Senin, 25 Januari 2010

Benci untuk Mencintai

Kepada kamu,
Dengan penuh kebencian.

Aku benci jatuh cinta. Aku benci deg-degan menunggu kamu online. Dan di saat kamu muncul, aku akan tiduran tengkurap, bantal di bawah dagu, lalu berpikir, tersenyum, dan berusaha mencari kalimat-kalimat lucu agar kamu, di seberang sana, bisa tertawa. Karena, kata orang, cara mudah membuat orang suka denganmu adalah dengan membuatnya tertawa. Mudah-mudahan itu benar.

Aku benci terkejut melihat SMS kamu nongol di inbox-ku dan aku benci kenapa aku harus memakan waktu begitu lama untuk membalasnya, menghapusnya, memikirkan kata demi kata. Aku benci ketika jatuh cinta, semua detail yang aku ucapkan, katakan, kirimkan, tuliskan ke kamu menjadi penting, seolah-olah harus tanpa cacat, atau aku bisa jadi kehilangan kamu. Aku benci harus berada dalam posisi seperti itu. Tapi, aku tidak bisa menawar, ya?

Aku benci harus menerjemahkan isyarat-isyarat kamu itu. Apakah pertanyaan kamu itu sekadar pancingan atau retorika atau pertanyaan biasa yang aku salah artikan dengan penuh percaya diri? Apakah kepalamu yang kamu senderkan di bahuku kemarin hanya gesture biasa, atau ada maksud lain, atau aku yang-sekali lagi-salah mengartikan dengan penuh percaya diri?

Aku benci harus memikirkan kamu sebelum tidur dan merasakan sesuatu yang bergerak dari dalam dada, menjalar ke sekujur tubuh, dan aku merasa pasrah, gelisah. Aku benci untuk berpikir aku bisa begini terus semalaman, tanpa harus tidur. Cukup begini saja.

 Aku benci aku harus sadar atas semua kecanggungan itu…, tapi tidak bisa melakukan apa-apa.

Aku benci ketika logika aku bersuara dan mengingatkan, “Hey! Ini hanya ketertarikan fisik semata, pada akhirnya kamu akan tahu, kalian berdua tidak punya anything in common,” harus dimentahkan oleh hati yang berkata, “Jangan hiraukan logikamu.”

Aku benci harus mencari-cari kesalahan kecil yang ada di dalam diri kamu. Kesalahan yang secara desperate aku cari dengan paksa karena aku benci untuk tahu bahwa kamu bisa saja sempurna, kamu bisa saja tanpa cela, dan aku, bisa saja benar-benar jatuh hati kepadamu.

Aku benci jatuh cinta, terutama kepada kamu. Karena, di dalam perasaan menggebu-gebu ini; di balik semua rasa kangen, takut, canggung, yang bergumul di dalam dan meletup pelan-pelan…
aku takut sendirian.

Aku benci jika suatu hari nanti aku sendiri tanpamu yang selalu ada dalam angan2 ku :'(

Selasa, 05 Januari 2010

Untuk Dia yang gw panggil Papa

Pada kenyataannya, Dia wujud kesempurnaan. Tuhan tau gimana gue memujanya. Sistem otak tau seberapa banyak gue gantungin namanya pada benang-benang memori.

Ya. Gue emang akan bicara tentang Dia.

Dia punya kata "IYA" untuk diberikannya ama gue. Bahkan gue seperti hampir ga memiliki kata "TIDAK" darinya. Dia terkadang bangunin gue dengan satu belaian, satu kecupan dan nada yang sama. Dia selalu mampu nemuin hal-hal yang bisa membuatnya bangga ama gue, bahkan ketika gue jauh dari ekspektasi nya. 

Dia yang memiliki banyak jawaban dari banyak pertanyaan yang gue ajukan. Percayalah, gue masih terus bertanya-tanya darimana jawaban-jawaban itu selalu mampu Dia suguhkan dan selalu mampu memunculkan rasa kagum gue buat Dia.

Dia yang meletakkan rasa percaya dengan sangat yakin buat gue. Dia yang nularin gue kecintaannya pada buku. Dan gue selalu mensyukuri itu. Dia selalu nganggap gue belum cukup dewasa buat dilepaskan, bahkan ketika semua orang nganggap gue pantas bua dilepaskan. Dia seperti mengabadikan gue dalam frame sosok yang akan selalu kecil di matanya. Tapi sungguh, gue ga berkeberatan kok. 

Dia yang menanamkan ide untuk selalu menjadi lelaki yang kuat dan mandiri sekaligus mengingatkan gue akan kodrat.  Kodrat yang mengharuskan gue melindungi wanita. Kodrat yang menurut Dia adalah menjadikan Dia bukan lagi orang yang harus didahulukan. Kodrat yang semakin lama seperti pingin gue kutuk atau gue kurung di menara tertinggi tanpa pintu, jendela atau bahkan ventilasi. Karena nyatanya, Dia dan pasangannya adalah orang yang selalu ingin gue dahulukan. Tapi kodrat membuat gue pada akhirnya ga lagi bisa mendahulukan mereka.

Udah deh, jangan berdebat tentang kesempurnaan. gue emang ga menganut asas kesempurnaan yang sama ama kalian. Dia masih tetap memiliki celah. Dia tetap dengan salah. Dia tetap berkekurangan. Tapi gue tidak menganut asas kesempurnaan kalian yang tanpa celah, salah dan kekurangan. Gue menganut asas kesempurnaan yang terbentuk karena ga sempurna. Jadi, biarlah Dia tetap sempurna.

Dia lah pemilik cinta sejati. Dia lah penggenggam ketulusan. Dia lah penganut kerja keras. Dia lah kesempurnaan.


-Untuk Dia yang gw panggil Papa

January, 2010
*Happy birthday Papa :)