Senin, 28 Desember 2009

INSOMNIA !!

Kurang tidur membuat otak gue tidak berfungsi maksimal.

Yah… Belakangan ini gue emang lagi insomnia berat. Mata gue ke mana-mana cuman segaris. Bawaannya nguap. Pengen tiduran, tapi begitu ketemu kasur malah gak bisa tidur. Salah satu sifat buruk gue kalau kurang tidur adalah kurangnya konsentrasi, kurang fokus, dan bawaannya ngelindur.

Gara-gara kurang tidur gue pernah bangun bener-bener setengah sadar, masuk kamar mandi, terus mandi… sampoan. Sampai akhirnya gue ngerasa, “Kok pala gue panas banget ya?” Pas gue liat… GUE SAMPOAN PAKE PEPSODENT. Yesssss. Sisi positifnya, paling tidak sekarang kepala gue bersih dari jigong-jigong yang mengganggu (buset, pala aja jigongan).

Insomnia is no fun.

Beberapa orang udah memberikan saran kepada gue untuk mengatasi insomnia yang sungguh parah ini. Pertama, saran yang paling banyak, adalah dengan meminum susu hangat. Tapi yang terjadi gue justru makin gak bisa tidur. Entah kenapa, setiap kali gue meminum sesuatu yang panas dan kental, gue merasa harus mengetik sesuatu. Mungkin karena kebiasaan nulis sambil ngopi kali ya? Yang jelas, begitu gue ke dapur, bikin hot chocolate, gue malah buka laptop dan ngetik tulisan-tulisan acak.

Saran kedua, yang diberikan oleh temen-temen adalah dengan meminum Antimo. Gue gak ngerti apa korelasi antara minum obat mabuk di atas kendaraan dengan tidur di atas kasur, berhubung kasur gue tidak beroda dan tidak bergerak ke mana-mana. Antimo memang bikin ngantuk, dan tidurnya pasti pules banget, tapi masalahnya cuman satu: bangun setelah tidur minum Antimo tuh gak enak. Bangunnya kerasa seperti hangover dari Antimo. Mulut jadi agak asem. Pala puyeng.

Di sisi yang lain, insomnia ngebantu banget dalam hal menulis.
Entah kenapa, gue ngerasa paling “klik” kalau gue menulis di malam hari. Ada romantisme tersendiri yang muncul dari menulis di tengah-tengah keheningan, gak ada gangguan. Dan entah kenapa juga, gue ngerasa lebih tenang ketika gue mikir “kebanyakan orang di Indonesia udah tidur”, gue merasa hape gue tidak akan bunyi tiba-tiba, kerjaan tidak akan datang menyodok, dan gue bisa sendirian dengan tulisan gue. Satu cangkir hot chocolate, dan laptop putiiih gue. Dengan tiduran sambil ngetik, gue bisa menghabiskan berjam-jam menulis berlembar-lembar dalam bentuk apa pun.

Meskipun begitu, kurang tidur bener-bener bikin kesiksa banget. Temen gue bilang, mungkin insomnia ini timbul dari kebanyakan pikiran, yang which is ada benernya juga; akhir-akhir ini banyak banget yang bermain di kepala gue. Lalu, temen gue menyarankan Valium, antidepresan yang ngebuat dia jadi “males, gak deg-degan, rasanya damai, dan tiba-tiba bisa black out”. Kayaknya asik juga tuh, masalahnya buat dapetin Valium harus lewat psikiater.

Sabtu, 19 Desember 2009

pikiran atas hal-hal GaJe saat ini !!! PERLU MIKIR......

Sekarang, kita ngobrolin apa ya?

Hmmmmmmmm, banyak…
tapi gue gak tau harus mulai dari mana.


Kadang ada banyak yang ada di kepala gue, tapi gue gak tau gimana cara menuliskannya, karena… well, saking banyaknya. Saking pusingnya. Something happened and I have been thinking heavily ever since. Gue coba tarik napas dalem-dalem, dan coba gue urain satu persatu apa yang bersliweran di kepala gue saat ini, gue coba biarin jari gue gerak sendiri, menyampaikan apa yang ada di kepala.

Here goes:


1. Gue gak pernah ngerti sama diri gue sendiri kenapa terkadang sebuah hal yang (kayaknya) kecil bisa begitu jadi besar buat gue. Bisa ngebuat gue kecewa, dan gue gak pernah ngerti kenapa kekecewaan ini bisa berubah seperti kanker yang menyebar dan menggerogoti perasaan gue sendiri… lama-lama ngebunuh dari dalam… dan mati. Gue gak pernah mengerti bagaimana harus mensiasati ini. Gue gak pernah ngerti kenapa buat gue, what has done yah done.. the damage has been done, and nothing we can do about it. There is absolutely nothing we can do about it. Kenapa? Kenapa gue gak bisa membuat semua ini seolah gak nampak, dan jalan terus. Kenapa? Kenapa? Kenapa gue harus membuat semua hal sempurna? Mungkin ini kutukan sekaligus berkah menjadi seorang perfeksionis… atau menjadi orang yang tak pernah puas?


2. Kalau yang namanya kesempurnaan itu gak ada, dan kita terus mengejar kesempurnaan, apa gue berarti mengejar sesuatu yang tidak ada? Dan kalau yang namanya memaafkan itu berarti melupakan, bagaimana cara melupakan sesuatu yang telah kita maafkan? Bahkan jika hal tersebut tidak seharusnya terjadi?


3. Gue sangat kagum bagaimana sebuah kejadian bisa terjadi. Katakanlah begini, jika seseorang menikah karena kenalan di facebook, bagaimana jika facebook tidak diciptakan? Bagaimana jika komputer tidak diciptakan? Bagaimana jika Bill Gates pada waktu itu meneruskan kuliahnya di Harvard Law dan melupakan mimpinya untuk membuat personal computer? Maka komputer (windows) tidak akan ada, facebook tidak punya wadah, dan dua orang ini tidak akan kenalan. Mereka mungkin akan menikah dengan orang lain, dan cerita hidup mereka akan completely berbeda, anak-anak yang berbeda, nasib yang berbeda. Setiap elemen-elemen dalam semesta ini mempertemukan kita ke jalan yang kita ambil. Apa ini semua sudah diatur, atau kita membuat ilusi bahwa sesungguhnya kita bisa mengatur ini? Apakah, perpisahan juga sudah diatur rapi? Ya, itu pertanyaannya, jika pertemuan seseorang direncanakan oleh “nasib” apakah perpisahan juga seperti itu? Dan jika iya, siapa yang bisa disalahkan?


4. Bagaimana kita tahu apa yang pilih itu “benar”? Bagaimana kita tahu apakah kita akan bahagia dengan pilihan kita. Aksi kita. Konsekuensi kita. Relativisme dalam contoh yang paling sempurna. Filsafat katanya bisa membantu kita memecahkan permasalahan-permasalahan dalam hidup, tapi yang ada justru pertanyaan satu mengikuti pertanyaan lain. Cuih.


5. Belakangan ini quote King Lear dari Shakespear terus ada di kepala: “If you prick us do we not bleed? If you tickle us do we not laugh? If you poison us do we not die? And if you wrong us shall we not revenge? ? If we are like you in the rest, we will resemble you in that.”


6. Lagi pengen Pocky rasa coklat. Eh Lucky lebih enak. Lay’s rumput laut juga enak.


7. Butterfly effect adalah terminologi yang keren banget, yang membuktikan bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini terkoneksi dengan kejadian-kejadian lainnya. Sub-bagian dari Chaos Theory yang paling gue suka. Tapi, semenjak ada film Butterfly Effect, apalagi yang meranin Ashton Kutcher, kok terminologi ini gak kedengeran seksi lagi ya.


8. Komedian dan filsuf adalah perpaduan yang asik banget. Gue cuman bisa menemukan ini di Woody Allen. Gue pengen kayak Woody Allen, tapi… Woody Allen led an empty life. Gue gak mau led an empty life. And Woody Allen have issues. Eh tunggu, hampir semua komedian yang gue tahu have issues: Jerry Seinfeld – cranky, Jerry Lewis -  komitmen phobia, Larry David – sangat-sangat cranky, Mitch Hedbgerg – mati overdosis, Mitch Fatel – pervert, bahkan Parto pernah menembakkan pistol ke udara di tempat umum. We are a bunch of complex creatures. Semua komedian adalah makhluk yang kompleks. Tanpa kecuali. And we hate it so much. At least I know I do.


9. Gue pengen punya mesin waktu.


Gue nulis apa sih? Buset, gue bahkan gak tau gue nulis apa.
Mohon maaf telah menyampah.


Be right back. Lagi perlu mikir.