Selasa, 26 Juli 2011

Alasan Kenapa Aku Tak Pernah Shalat

Agama tidak hanya mengajarkan percaya pada tuhan saja. Di dalamnya ada tuntunan dan aturan-aturan yang harus dipatuhi. Ada kewajiban yang harus dijalankan, baik itu kewajiban kepada sesama manusia maupun kewajiban kepada tuhan. Standart pribadiku kewajiban untuk berbuat baik kepada sesama manusia bisa hanya sebatas tidak merugikan orang lain. Tidak mengganggu orang lain dan tidak mengambil alih hak-hak orang lain. Dan lagi kita bisa berimprovisasi sendiri meningkatkan nilai diri lewat membantu orang lain.



Shalat adalah salah satu ibadah yang paling diwajibkan oleh tuhan.



Waktu usiaku 7 tahun, aku merasa tidak berkewajiban untuk menunaikan ibadah shalat. Karena dulu, aku percaya kalau katanya dosa anak yang belum baligh (dewasa) itu ditanggung oleh orang tua. Pasalnya, orang tua lah yang berkewajiban mendidik anaknya. Ya, sesekali aku shalat karena cinta pada orang tua. Takut kalau mereka harus masuk neraka karena aku tidak shalat. Padahal hakikatnya kalimat “dosa ditanggung oleh orang tua” itu adalah agar anak jadi rajin beribadah, karena biasanya anak-anak akan mencintai orang tuanya dan tidak mau kalau orang tuanya masuk neraka.



Menginjak usia 13 tahun, aku juga belum shalat. Lah, kan aku belum baligh. Jadi belum menanggung dosa sendiri. Masih ada orang tua yang bisa dijadikan tameng dari dosa-dosa. Lagipula di usia itu adalah saat yang paling enak untuk bermain dengan teman sebaya. Bermain sepak bola, kejar-kejaran.



Di usia 17 tahun, aku tahu aku sudah menanggung dosa sendiri. Karena sudah baligh, sudah mimpi “naik ke bulan”. Sebuah istilah yang aku tidak tahu apa artinya. Tapi aku baru “naik ke bulan” selama dua tahun. Jadi dosaku masih dua tahun, masih sedikit. Jadi, umur 20 tahun nanti lah aku akan mengganti shalat yang tertinggal itu.



Di usia 20 tahun, aku mulai mempertanyakan agamaku. Aku sudah masuk kuliah dan harus kritis. Jadi aku bertanya tentang tuhan, tentang kitab suci, tentang nabi dan tentang kebenaran dari semuanya. Aku tidak mungkin shalat dalam keadaan labil. Aku harus menemukan jati diriku.



Di usia 24 tahun, aku selesai kuliah. Agamaku telah mulai kuyakini. Tapi kini aku tengah sibuk mencari kerja. Jadi aku sibuk kesana kemari. Mencari lowongan, menyiapkan berkas lamaran. Dan itu melelahkan sekali. Aku tidak memiliki waktu untuk shalat. Shalat sih sebentar saja, tapi kadang terlalu sering menginterupsi.



Di usia 25 tahun. Aku belum mendapat kerja. Aku menggugat tuhan. Aku telah berusaha, tapi aku tidak mendapatkan. Aku jadi tidak mau shalat.



Di usia 27 tahun. Aku sudah bekerja di sebuah perusahaan ternama. Posisiku juga lumayan. Tapi, sibuknya bukan main. Sebentar-sebentar HP berdering. Lagi pula aku tengah pedekate dengan seorang gadis pujaan. Dengan seabrek kesibukan itu, mana sempat aku shalat.



Usiaku beranjak 30 ketika anak pertamaku lahir. Duh senangnya, karirku juga makin mapan. Namun, kesibukan makin merajai. Aku harus mengejar setiap kesempatan untuk masa depan keluargaku. Pertumbuhan anakku juga menyita perhatian yang besar, aku juga harus menyekolahkan anakku ke sekolah umum dan agama agar kelak ia berguna bagi bangsa dan agamanya.



Di usia 35, anak keduaku lahir. Dia wanita, cantik sekali. Bahkan sering aku memandikan dan menggantikan popoknya. Hidupku serasa lengkap sekali. Tapi, biaya hidup makin meningkat. Orang tuaku juga sudah mulai sakit-sakitan dan butuh biaya berobat. Aku harus makin rajin bekerja untuk menafkahi mereka. Sholat masih bisa kumulai di usia 40 nanti, pikirku.



Di usia 40, entah kenapa anakku tak seperti yang kuharapkan. Aku tak menyangka mereka bisa senakal itu. Bahkan anak pertamaku pernah tertangkap karena menghisap daun ganja. Daun surga katanya. Aku tak bisa konsentrasi untuk shalat. Ada saja yang membuat aku tak pernah melakukan ibadah utama itu.



45 tahun kujalani. Aku semakin lemah, tak sekuat dulu. Batuk sesekali mengeluarkan darah. Istriku mulai rajin berdandan, sayangnya dia berdandan saat keluar rumah saja. Di rumah, wajahnya tak pernah dipupur bedak sedikitpun. Aku merutuk, dosa apa yang telah aku lakukan hingga hidupku jadi begini?



Usiaku menginjak 55, aku berpikir kalau usia 60 nanti adalah waktu yang tepat untuk memulai shalat. Saat aku sudah pensiun dan aku akan tinggal di rumah saja. Saat itu adalah saat yang tepat sekali untuk menghabiskan hari tua dan beribadah sepenuhnya kepada tuhan.



Tapi aku sudah lupa bagaimana cara shalat. Aku lupa bacaannya. Aduh, aku harus mendatangkan seorang ustadz ke rumah seminggu 3 kali. Tapi aku tak kuat lagi untuk mengingat. Ingatanku tak setajam ketika dulu aku kerap juara lomba di kampus atau sekolah. Atau ketika manajer perusahaan salut pada tingkat kecerdasanku. Kali ini semua telah pudar. Jadi, apa yang diajarkan ustadz itu sering membal dari telingaku. Lagipula, badanku sudah tak begitu kuat untuk duduk lama-lama.



Kalau tidak salah, kali itu usiaku 59 tahun ketika istriku minta cerai. Alasannya tak lagi jelas kuingat, salah satunya katanya karena lututku tak kencang lagi bergoyang. Lucu ya? Entah kenapa juga dulu aku menikahinya, umurnya 20 tahun lebih muda dariku. Dia memang istri keduaku. Istri pertamaku dulu hilang, dibawa sahabatku.



Tak sampai usiaku 60, aku masih berusaha untuk shalat. Tapi serangan jantung membuat rumah mewahku ramai. Mereka terlihat menangis. Bahkan anak pertamaku yang membangkrutkan satu perusahaan keluargaku terlihat begitu tertekan. Ada kata yang sepertinya ingin dia ucap.



Terakhir aku akhirnya bisa shalat juga, sayangnya aku tidak shalat dengan gerakku sendiri. Aku hanya terbaring atau terbujur tepatnya. Dan orang-orang menyalatkanku.



rasanya memang aneh...aku merasa sadar...tapi badan tak bisa kugerakan lagi...,aku ingat sekali sebelumnya dadaku terasa sakit..lama2 sakit itu terasa pada sekujur tubuh...bagaikan ditusuk ribuan pedang sampai tak terperikan lagi saking sakitnya...,akhirnya terbujur kaku....



setelah itu aku merasakan tubuhku ditandu...aku berteriak2 tanpa suara haiiii kalian akan bawa kemana akuuuu....,tapi tiada yang perduli....., tiba2 aku merasa masuk ke sebuah ruangan yg gelap tak ada suara apapun tak ada cahaya apapun...lalu berpindah ruangan lagi.....aku bisa merasakan suara langkah langkah kaki yang semakin menjauh.......



MANROBBUKAAA!!!!! ....AAARRGHH!!!!!!!ampuuun



kulit2 ku terkelupas dengan segala hukuman yang aku dapat ketika aku bangun..aku di vonis harus tinggal di neraka yang tak pernah kupikirkan sebelumnya aku akan disana..aku berteriak, minta ampun, menyesal sejadi-jadinya..tapi percuma, tak ada gunanya lagi menyesal saat ini..andai saja aku rajin solat, mungkin akan berbeda nasib ku sekarang



Allah maha adil, aku hanya harus menerima apa yang aku kerjakan sekarang..sakit, sangat sakit, aku hanya bisa berteriak sekencang-kencangnya, meminta ampun tiada henti, berharap bisa kembali lagi ke dunia dan mengulang semua apa yang sudah pernah aku lewati



aku khilaf ya Allah, aku terlalu khilaf, ijinkan aku kembali ke dunia untuk membalas semua kesalahanku

Rabu, 06 Juli 2011

Jadi Lapeerrr


Gue gak pernah paham sama restoran yang ngebuat kita masak makanan sendiri. You know, restoran kayak restoran korea atau Hanamasa gitu, di mana kita dikasih daging mentah, dikasih bumbu, dikasih kompor, terus masak sendiri. This is should be restaurant. KENAPA GUE HARUS MASAK MAKANAN GUE SENDIRI?

Dan restoran-restoran ini gak pernah ngasih kita pilihan, kan? Pilihannya antara kita masak sendiri dagingnya ato makan mentah-mentah. Dan gue, gak pernah ngeliat orang makan daging mentah di Hanamasa.

Eniwei, baru-baru ini gue makan di PS, di Pepper Lunch. Konsepnya sih sama, masakannya dimasak sendiri. Di sini perbedaannya, masakannya engga dimasak di kompor, tapi kita dikasih hot plate di mana dagingnya setengah mateng dan kita tinggal oseng-oseng sebelum dinikmatin. Bahkan, ada satu TV gede dipajang di deket jendela.. di mana gue dikasih tau gimana cara masaknya step by step. Gila. Untungnya, makanan di sana enak abis. Coba Sirloinnya deh.. bedeeeeh orgasme deh lo.

di Pepper Lunch, hasil ngoseng sendiri: berantakan abis

Apa ini restoran semacem ini lagi ngetrend? Kalo gitu gampang banget dong jadi pengusaha restoran. Gue juga mao bikin restoran di mana yang gue jual cuman ayam hidup. Pembeli akan dateng, bisa pilih ayamnya sendiri. Lalu pembeli duduk di meja (yang udah ada golok gede) dan mereka akan buntungin pala ayamnya sendiri, nyabutin bulunya sendiri, potongin sendiri, dan akhirnya MASAK SENDIRI. Eat that, suckers!

Ngomongin tempat sempurna untuk first-date, temen-temen di Jakarta mungkin bisa nyoba Pancious. Menu andalannya bermacam-macam pancake gitu. Enak-enak banget. Sayangnya, pas pertama kali ke sana gue sok-sok gaya mau mesen pancake yang aneh-aneh. Gue mesen pancake mangga. Yup, itu bener sodara-sodara. PANCAKE MANGGA. Rasanya? MANGGA DICAMPUR PANCAKE.. MENURUT LOOO?!!!!

Eniwei, entah kenapa daripada makan di restoran, gue lebih suka di pinggir jalan. Mental orang miskin kali ye? Hehe. Duh, jadi laper. Pengen ke Sate Sambas lagi..


Do'aku di Sore ini

ya allah,,
jika ku boleh ttp sayang padanya
biarlah perasaan ini terpendam
biar dia tertawa
dan bantulah aku untuk tetap bahagia melihatnya bahagia
meski dia bahagia dengan orang lain

Minggu, 03 Juli 2011

PUTUS CINTA ATAU HUBUNGAN, PRIA LEBIH MERANA DAN CENGENG…?!

Dengan melihat judul diatas, memang ini suatu pertanyaan yg menggelitik karena  selama ini pria selalu identik dengan kekuatan dan ketegaran dalam menghadapi suatu masalah.

Walau wanita menangis tersedu-sedu sedangkan pria hanya diam, bukan berarti kaum adam ini kuat menghadapi putus cinta atau hubungan. Malah menurut sebuah penelitian, pria selalu ‘lebih cengeng’ ketimbang wanita.

Beberapa penelitian membuktikan tingkat depresi, stress dan kecemasan pria lebih parah ketimbang wanita pasca putus cinta. Dilansir yahoo, Jumat (20/4/2007), hal ini kemungkinan disebabkan karena karakteristik sifat pria. Simak penjelasannya: 


Pria Kerap Menutupi Sakit Hatinya
Hey…, masa seorang pria menangis? Mungkin begitulah yang terlintas di benak pria. Pelampiasannya paling pergi bersama beberapa teman pria dan berakhir dengan mabuk-mabukan. Intinya, pria kadang enggan menunjukkan perasaan sedihnya ketika putus dengan sang kekasih, ia merasa harus selalu tampak tegar.


Sedangkan wanita kebanyakan langsung menangis atau curhat pada sahabat begitu  cintanya diputus. Begitu juga ketika memutuskan cinta, wanita biasanya berbicara apa adanya dan langsung mengeluarkan apa isi hatinya, intinya, wanita berani menghadapi rasa sedihnya sedangkan pria banyak menahan reaksi atau perasaannya, alhasil semuanya menumpuk dan sulit dibuang. 


Pria Tidak Punya Banyak Teman
Begitu mengalami patah hati, hampir seluruh wanita langsung mengungkapkan isi hati atau bercerita kepada teman terdekatnya. Teman tersebut bisa saja ibu, sahabat, tetangga, teman kantor atau bahkan supir taksi yang dinaikinya setelah meninggalkan sang pacar. Penelitian membuktikan pria kerap menggantungkan kedekatan emosionalnya pada sang pacar, sedangkan wanita punya sejuta tempat selain sang kekasih
.


Pria lebih sering memendam perasaannya dan berusaha meyakinkan dirinya sendiri kalau ia baik-baik saja, setidaknya baru enam bulan kemudian pria tersebut menyadari dan berani mengungkapkan pada teman-teman dekatnya kalau ia ingin kembali pada sang kekasih. 


Pria Benci Awal yang Baru
Begitu putus, pria umumnya merasakan sedikit kegembiran, bisa berkencan dan menggoda banyak wanita, berburu kekasih baru dan lain-lain, tapi setelah kencan pertama, kedua dan ketiga, akhirnya rasa jenuh pun melanda, sang pria pun menyadari masih panjang jalannya untuk menemukan kenyamanan yang sama seperti pada kekasihnya dulu.


Menurut penelitian, secara mental umumnya wanita lebih siap menghadapi putus cinta sedangkan pria jarang berpikir hubungan akan berakhir dan umumnya pria baru menyadari betapa berharga mantan kekasihnya dan betapa ia kehilangan dirinya setelah berbulan-bulan putus cinta. Hasilnya, sang wanita sudah jauh memulihkan diri dan semuanya sudah terlambat. 


Pria Berpatok Pada Khayalan
Putus cinta atau hubungan juga kerap disebabkan karena pria merasa bosan dengan kekasih atau pasangannya, kencan yang sama, pertengkaran yang sama dan hal-hal lain yang lama-lama membuatnya jenuh. Begitu putus, ia berpikir akan langsung bertemu dan berkencan dengan banyak wanita, walau mimpi tersebut benar-benar terjadi diam-diam ia merasa kehilangan keintiman dan kenyamanan yang sebelumnya ia dapat dari sang mantan pacar.

Penelitian membuktikan, wanita umumnya lebih cepat menyadari kalau fondasi dari hubungan yang awet adalah keintiman. Sedangkan pria umumnya lebih memikirkan seks sehingga akhirnya mereka salah orientasi.

NB: Apa Demikian..??? Apa yang ada dalam benak anda saat ini...???

Membahagiakanmu walau dengan Lilin kecilku :'(

rasaku ini dalam kurasa
yakinku padanya nyata adanya
indah asaku sungging senyumku

namun dalam sebetik rasa
ada gundah yang mengusik
keraguan akan janjinya
bagaimanakah aku berarah dengan kompas yang entah dimananya kini

dimana engkau dengan cumbumu dulu
engkau yang dulu mampu buatku bahagia sesungguhnya
teramat inginkan hadirku

atau ada pelita lain yang sinarimu melebihi sinar lilin kecilku

aku tau ,,,
aku tetap disini dengan sinar lilin kecilku yang berusaha bahagiakanmu dengan keterbatasan

Mencintai dalam Diam ??!!

Kamu pernah mencintainya dalam diam? 

Diam yang seperti kabut, membuatmu tidak sadar bahwa kamu telah mencintainya.

Cinta tidak pernah datang dengan undangan atau pemberitahuan.

Cinta datang di saat hatimu membutuhkannya. Ia akan menyelusup dan berdiri di hatimu.