Mungkin ini udah saatnya gue harus mulai belajar melupakannya. Mungkin ini saatnya juga gue memilih untuk belajar menjadi temen aja untuk dia, Ms. Boo. Meski kenangan tentang dia ga mudah untuk gue hapuskan, biarlah semua membusuk bersama luka yang hidup dalam kesia-siaan.
Tapi gue bakal tetep setia menjadi tiang dan jembatan tanpa sebab untuk dia. Setidaknya gue berdzikir lemah untuk pilihannya. Semoga bahagia menjemput, setia memayungi cintanya.
“Setia cinta kita memang sudah berakhir”
Terpuruk kecewa, mengucap selamat tinggal pada bahagia. Kuyup letih gue bertabur sepi dan sendiri. Cinta dan penantian gue berakhir sia-sia, sirna ga bersisa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar